Peradaban Mesir kuno berada dalam waktu yang sama dengan negara kota yang berada di Mesopotamia, dikenal sebagai satu diantara peradaban tertua di dunia dan dikenal dengan pengorganisasian negara dan paling maju dalam tatanan sosial dijamannya. Fakta bahwa mereka telah menemukan tulisan/huruf pada milinium 3 SM dan menggunakannnya, bahwa mereka juga memanfaatkan sungai Nil dan mereka terselamatkan dari berbagai bahaya luar dalam kaitannya dengan setting alamiah negara tersebut, nyata-nyata telah memberikan sumbangan yang besar terhadap bangsa Mesir dalam peningkatan peradaban mereka. Namun, masyarakat yang "beradab" ini, pada masa berlakunya "pemerintahan Fir'aun (Pharaoh)" menggunakan system kafir yang disebutkan secara jelas dalam Aal qur'an dalam bahasa yang amat jelas dan lugas. Mereka bersifat congkak, angkuh dengan kebanggaan diri, mengesampingkan dan mengutuk. Dan akhirnya baik peradaban mereka yang maju, tatanan sosial politik bahkan dengan tentara yang kuat sekalipun tidak bisa menyelamatkan ketika mereka dihancurkan. Wewenang Sang Fir'aun (Pharaoh) Peradaban bangsa Mesir sangat mendasarkan pada kesuburan sungai Nil. Bangsa Mesir telah menetap di lembah Nil dikarenakan melimpahnya air di sungai ini dan karena mereka bisa mengolah tanah dengan persediaan air yang telah diberikan oleh sungai yang tidak tergantung kepada musim hujan. Ahli sejarah Ernest H Gombrich mengaakan dalam tulisannya bahwa Afrika sangatlah panas dan terkadang tidak pernah sama sekali turun hujan selama berbulan-bulan. Inilah sebabnya mengapa banyak daerah di benua yang besar ini sangat luar biasa keringnya. Bagian-bagian dari benua ini tertutup oleh lautan pasir yang sangat luas. Di kedua sisi sungai Nil juga tertutup oleh pasir dan di Mesir sendiripun jarang terjadi hujan. Namun di negeri ini hujan tidaklah terlalu dibutuhkan karena sungai Nil yang mengalir melintas ditengah-tengah seluruh negara .1Jadi siapapun yang nenguasai sungai Nil yang sangtlah penting tersebut maka dialah yang bisa menguasai asset terbesar perdagangan dan pertanian Mesir. Pharaoh bisa melangengkan dominasinya atas Mesir dengan jalan ini. Bentuk sungai Nil yang sempit dan memanjang di Lembah Nil tidak memungkinkan unit-tunit kependudukan yang berada disekitar sungai untuk terlalu mengembangkan wilayahnya. Itulah sebabnya bangsa Mesir lebih memilih untuk membentuk sebuah peradaban yang terdiri dari kota-kota kecil dan perkampungan daripada kota-kota besar. Faktor inilah yang memperkuat dominasi Pharaoh atas masyarakatnya. Raja Menes dikenal sebagai pharaoh Mesir pertama yang menyatukan seluruh Mesir kuno untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam sebuah negara persatuan kurang lebih 3000 SM. Kenyaaan bahwa istilah "Pharaoh " asal usulnya merujuk pada istana dimana raja Mesir berada, namun pada saat itu menjadi gelar dari raja-raja Mesir. Inilah sebabnya mengapa raja yang memerintah Mesir kuno mulai disebut " Pharaoh". Sebagai pemilik, pengatur dan penguasa dari seluruh negara dan wilayah-wilayahnya, maka Pharaoh diterima sebagai pengejawantahan dari dewa yang terbesar dalam kepercayaan Mesir kuno yang Politheistik dan menyimpang. Administrasi dari wilayah Mesir, pembagian mereka, pendapatan mereka, singkatnya, seluruh pertanian, jasa dan produksi dalam batas-batas wilayah negara dikelola dalam kekuasan Pharaoh. Absolutisme dalam masa kepemimpinannya telah melengkapi penguasaannya terhadap negara dengan kekuasaan yang dapat melakukan semua hal sesuai dengan keinginannnya. Tepat pada dinasti pertama kekuasaannya Menes yang menjadi raja Mesir yang berhasil menyatukan Hulu dan Hilir Mesir, Sungai Nil diserahkan kepada publik dengan menggunakan saluan-saluran air. Disamping itu seluruh produksi berada dibawah penguasaan dan seluruh produksi barang dan jasa diberikan untuk kepentingan sang raja. Rajalah yang mendistribusikan dan membagi barang dan jasa dalam proporsi yang diinginkan oleh rakyat. Hal ini tidaklah sulit bagi raja yang telah memiliki suatu kekuasaan di daeah tersebut untuk menempatkan rakyat dalam kepatuhan Raja Mesir atau yang nantinya bernama Pharaoh dan dia mengaku dirinya sebagai Makhluk suci yang memegang kekuasan yang besar dan mencakupi semua kebutuhan rakyatnya dan ia mengubah dirinya menjadi tuhan. Para Pharaoh benar-benar percaya bahwa diri mereka adalah tuhan. Kata-kata Pharaoh (Fir'aun) disebutkan dalam al Qur'an yang digunakan dalam percakapannya dengan Musa, hal ini membuktikan bahwa mereka percaya atas ketuhanan Pharaoh. Ia mencoba mengancam Musa dengan mengatakan ;" Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". ( QS Asy-Syu'ara 29), dan berkata Fir-aun kepada orang-orang di sekelilingnya ;" Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku". (QS Al Qashas 38). Ia mengatakan ini semua karena menganggap dirinya adalah tuhan.
Kepercayaan Agama Menurut Herodotus seorang ahli sejarah, Mesir kuno adalah umat yang paling beriman di dunia. Namun agama mereka bukanlah agama yang sejati, namun merupakan sebuah bentuk politheisme yang sesat. Dan mereka tidak bisa meningalkan agama sesat mereka karena mereka orang-orang yang sangat kolot (konservatif).Inilah sebabnya Fir'aun dan lingkungan dekatnya mengingkari Musa dan Harun ketika mengumumkan Agama Sejati dengan mengatakan ; Mereka berkata; "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?, kami tidak akan mempercayai kamu berdua".(QS. Yunus: 78) Agama/kepecayaan dari bangsa Mesir kuno dibagi ke dalam cabang-cabang, yang paling utama menjadi agama resmi negara adalah kepercayaan terhadap orang-orang dan adanya kehidupan setelah kematian.Menurut agama resmi negara, Fir'aun (Pharaoh) adalah mahkluk suci, dia adalah pengejawantahan dari tuhan-tuhan mereka di muka bumi dan tujuannya adalah untuk menyelenggarakan keadilan dan melindungi mereka di dunia. Kepercayaan yang berkembang luas dikalangan masyarakat sangatlah rumit dan unsur-unsur yang berbenturan dengan kepercayaan resmi negara ditekan oleh pemerintahan Fir'aun. Pada dasarnya mereka percaya kepada banyak tuhan dan tuhan ini biasanya digambarkan memiliki kepala binatang dengan tubuh manusia. Kepercayaan bangsa Mesir terhadap kehidupan di hari kemudian jelas-jelas menunjuukan paralelisme (kesamaan padangan) dengan kepercayaan monotheistik dan agama sejati (yang benar). Dan perintah-perintah suci telah mencapai peradaban Mesir kuno, namun agama ini kemudian diselewengkan dari monotheisme berubah menjadi Pholytheisme. Seperti telah diketahui bahwa para pemberi peringatan menyerukan orang-orang untuk meng-Esakan Allah dan memerintahkan mereka untuk menjadi hamba-Nya, diutus di Mesir dari masa ke masa sebagaimana mererka diutus untuk seluruh penduduk dunia pada satu waktu atau waktu yang lain. Salah satunya adalah Nabi Yusuf yang kehidupannya secara terperinci diceritakan dalam Al Qur'an. Sejarah Nabi Yusuf adalah sangat penting karena terdapat kehadiran anak-anak Israel di Mesir dan bagaimana mereka menatap disana. Sebaliknya dalam sejarah terdapat keterangan yang menyatakan bahwa banyak orang Mesir yang menyerukan orang-orang terhadap kepercayaan -kepercayaan Monotheistik bahkan sebelum nabi Musa sekalipun, salah satu dari mereka adalah Pharaoh(Fir'aun) yang paling penting dalam sejarah Mesir, dia adalah Amenhotep IV. Fir'aun Amenhotep IV Yang Monotheistik Fir'aun-fir'aun Mesir pada umumnya bersifat brutal, menindas, suka berperang dan orang-orang yang bengis. Secara umum menereka mengadopsi agama politheisme Mesir dan mendewa-dewakan diri mereka sendiri melalui agama ini.Namun terdapat seorang Fir'aun dalam sejarah Mesir yang sangat-sangat berbeda dengan yang lainnya. Fir'aun ini mempertahankan kepercayan terhadap sang pencipta Yang Tunggal dan karenanya ia mendapakan perlawanan yang sangat kuat dari para pendeta Amon, yang mereka itu mendapatkan keuntungan dari agama politheisme dan dengan beberapa prajurit yang membantu mereka, sehingga akhirnya Fir'aun itu terbunuh. Fir'aun ini adalah Amenhotep IV yang mulai berkuasa di abad XIV SM. Ketika Fir'aun Amenhotep IV dinobatkan sebagai raja pada 1375 SM, ia menjumpai kekolotan (konservatisme) dan tradisionalisme yang telah berlangsung selama berabad-abad, sehingga susunan masyarakat dalam hubungannya dengan istana kerajaan terus berlanjut tanpa adanya perubahan. Masyarakat menutup pintu rapat-rapat terhadap peristiwa dari luar dan kemajuan agama. Konservatisme yang sangat keras ini juga dikatakan oleh para pengembara Yunani kuno sebagai diakibatkan oleh kondisi geografis alam Mesir seperti disebutkan diatas. Sesuai dengan ketentuan Fir'aun, agama resmi menuntut kepercayaan yang tidak terbatas dalam segala hal yang lama dan tradisional. Namun Amenhotep IV tidak menyetujui agama resmi tersebut. Ahli sejarah Ernst Gombrich menulis : Amenhotep IV melakukan banyak perubahan terhadap banyak kebiasaan yang disucikan oleh tradisi tua dan tidak ingin untuk melakukan penyembahan terhadap tuhan yang berbentuk dalam berbagai simbol yang aneh dari kaumnya. Baginya hanya satu Tuhan yang perkasa yaitu Aton, yang disembahnya dan yang diejawantahkannya dalam bentuk matahari Ia menyebut dirinya setelah tuhannya, sebagai Akhenaton, dan ia memindahkan istananya menjauh dari jangkauan para pendeta dari tuhan-tuhan yang lain ke suatu tempat yang sekarang disebut dengan El-Amarna .2 Setelah kematian ayahnya, Amenhotep IV muda mendapatkan tekanan yang hebat. Tekanan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ia membangun sebuah agama yang berdasarkan paham monotheisme dengan mengubah agama tradisional politheisme Mesir dan memcoba untuk melakukan perubahan-perubabahan yang radikal dalam berbagai bidang. Namun para pemimpin Thebes tidak memperbolehkannya untuk menyampaikan pesan dari agama ini. Amenhotep IV dan orang-orangnya kemudian berpindah dari kota Thebes dan bermukim di Tell-El-Amarna. Disini mereka membangun sebuah kota baru yang modern yang dinamakan "Akh-et-aton". Amenhotep IV mengubah namanya yang berarti "kesenangan/kesayangan dari sang Amon" menjadi Akh-en-aton yang berarti "Tunduk kepada sang Aton". Amon adalah nama yang diberikan untuk patung (totem) yang terbesar dalam kepercayaan politheisme bangsa Mesir. Menururt Amenhotep IV, Aton adalah "pencipta dari surga dan dunia", penyamaan nama sebutannya untuk Allah. Merasa terganggu dengan perkembangan ini, maka para pendeta Amon ingin merenggut kekuatan Akhenaton dengan menciptakan krisis ekonomu di negaranya. Akhenaton akhirnya terbunuh dengan cara diracun oleh para komplotan yang ingnin menghancurkannya. Para Fir'aun berikutnya merasa khawatir dan merekapun tenggelam dalam pelukan pengaruh para pendea tersebut. Setelah Akhenaton, muncullah Fir'aun yang berkuasa dengan kekuatan militer. Hal ini sekali lagi mengakibatkan tradisi lama politheisme menjadi berkembang luas dan adanya usaha untuk kembali ke masa lalu. Beberapa abad kemudian, Ramses II yang berkuasa paling lama dalam sejarah Mesir diangkat menjadi raja. Menurut banyak ahli sejarah, Ramses II adalah Fir'aun yang menyiksa Bani Israel dan berperang terhadap Nabi Musa . 3 | ||||||||||||||||||||||
| | ||||||||||||||||||||||
|
Kamis, 31 Desember 2009
FIR'AUN YANG DI TENGGELAMKAN
KAUM TSAMUD
Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an, kaum Tsamud menolak peringatan-peringatan dari Allah sebagaimana dilakukan kaum 'Ad dan sebagai konsekuensinya merekapun dihancurkan. Berdasarkan hasil studi arkeologi dan sejarah terkini banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui telah diketemukan, semisal lokasi dimana kaum Tsamud hidup. Perumahan yang mereka buat dan gaya hidup mereka. Tsamud seperti disebutkan dalam Al Qur'an merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh banyak temuan arkeologis saat ini. Sebelum lebih jauh melihat temuan arkeologis yang berkaitan dengan kaum Tsamud, sangatlah bermanfaat untuk mempelajari cerita di dalam Al Qur'an serta perjuangan dari kaum ini dengan nabi mereka. Sebagaiman bahwa Al Qur'an adalah kitab yang diperuntukkan untuk sepanjang massa, pengingkaran kaum Tsamud dari peringatan-peringatan yang datang kepada mereka adalah sebuah peristiwa yang memberikan sebuah peringaan kepada semua orang disepanjang massa. Penyampaian Pesan Nabi Shalih Di dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Nabi Shalih diutus untuk memperingatkan kaum Tsamud. Shalih dikenal dikalangan masyarakat Tsamud. Kaumnya yang tidak mengharapkan ia akan mengumumkan agama yang benar merasa terkejut atas seruannya untuk meninggalkan penyimpangan-penyimpangan mereka. Reaksi pertama adalah menghujat dan mengutuknya ;Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata;"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amatlah dekat (Rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). Kaum Tsamud berkata ;"Hai shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami/ dan sesungguhnya kamu betul-betul berada dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. (QS Hud 61-62). Sebagian kecil dari kaum Tsamud memenuhi panggilan Nabi Shalih, namun sebagian besar dari mereka tidak menerima apa yang dikatakannya. Penolakan ini terutama dari para pemimpin kaum tersebut dan mereka menempatkan Shalih sebagai musuh terhadap mereka. Mereka mencoba untuk menghalang-halangi dan menekan kaum yang beriman kepada nabi Shalih. Mereka sangat murka terhadap Shalih karena ia menyerukan kepada mereka untuk menyembah Allah. Kemurkaan ini tidak hanya khusus dilakukan kaum Tsamud. Tsamud mengulang kembali kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum Nuh dan 'Ad yang telah hidup sebelum mereka. Inilah sebabnya berkenaan dengan ketiga kaum tersebut Al Qur'an menyebutkan ;Belumkah sampai kepadamu berita-berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) Kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang kepada mereka rasul-rasul (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya kemulutnya (karena kebencian) dan berkata; "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya". (QS. Ibrahim: 9). Tanpa mengindahkan peringatan -peringatan Nabi Shalih, orang-orang membiarkan kesangsian menguasai mereka. Namun masih ada sekelompok kecil yang percaya terhadap kenabian shalih dan merekalah orang-orang yang diselamatkan bersama dengan Shalih ketika bencana besar datang. Pemimpin masyarakat tersebut berupaya untuk menekan kelompok yang mempercayai Shalih ;Pemuka-prmuka yang menyombongkan diri diantara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka; " tahukah kamu bahwa Shalih di utus ( menjadi rasul) oleh Tuhannya?". Mereka menjawab; " Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shalih diutus untuk menyampaikannya". Orang-orang yang menyombongkan diri berkata;" sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu". (QS. Al-A'raf: 75-76). Kaum Tsamud melanjutkan kesangsian untuk menghormati Allah dan kenabian shalih, lebih jauh sekelompok orang tertentu secara terang-terangan menyangkalnya. Sekelompok orang diantara yang menolak keimanan -menurut dugaan, dengan Nama Allah - merencanakan untuk membunuh Shalih :Mereka menjawab; " Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang bersama kamu". Shalih berkata ; "Nasibmu ada pada sisi Allah ( bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu yang diuji". Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata; "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba bersama keluarganya dimalam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar". Dan merekapun merencanakan makar dengan sesungguh-sungguhnya dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (QS. An-Naml: 47-50). Untuk mengetahui apakah kaumnya akan memamtuhi perintah Allah atau tidak, Shalih menunjukkan kepada mereka seekor unta betina sebagai ujian untuk mengetahui apakah mereka akan mematuhinya atau tidak. Salih berkata kepada kaumnya untuk berbagi air mereka dengan unta betina tersebut dan tidak menyakitinya. Kaumnya menjawab dengan membunuh unta betina tersebut. Dalam surat Ash-Shuara kejadian tersebut disebutkan sebagai berikut:Kaum Thamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Shalih, berkata kepada mereka: " Mengapa kamu tidak bertaqwa?. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwakah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepdamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkkan tinggal di sini (di negeri ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma yang manyangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan". Mereka berkata ;" Sesungguhnya kamu adalah seorang dari orang-orang yang terkena sihir; Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mu'jizat jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar". Shaleh menjawab;" Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran yntuik mendapatkan air dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari tertentu. Dan jangalah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar. Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menyesal, maka mereka ditimpakan azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (QS Asy Syu'araa' 141-158). Perjuangan Nabi Shalih terhadap kaummnya dikisahkan sebagai berikut:Kaum Thamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka mererka berkata; "Bagaimana kita akan mengikuti saja, seorang manusia (biasa) diantara kita ?. Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepdanya di antara kita ?. Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. " kelak mereka akan mengetahui siapakah sebenarnya yang amat pendusta lagi sombong. Sesungguhnya Lami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tia-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya gilirannya). Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawanya menangkap (unta itu0 dan membunuhnya. (QS Al Qamar 23-29). Kenyataan bahwa mereka tidak dilaknat pada saat itu juga, semakin meningkatkan keangkaramurkaan kaum ini. Mereka menyerang Salih dengan mengatakannya sebagai seorang pendusta :Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata ;" Wahai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).(QS. Al-A'raf: 77) Allah membuat rencana dan tipu daya terhadap mereka atas ketidakpercayaan mereka, dan Dia menyelamatkan Shalih dari tangan-tangan yang ingin melakukan perbutan keji terhadapnya. Setelah kejadian itu, Shalih yang telah menyampaikan berbagai pesan terhdap kaumnya dengan berbagai jalan dan tetap tak ada seorangpun yang memperhatikannya sebagai pelajaran, Shalih berkata kepada kaumnya bahwa mereka akan dihancurkan dalam waktu tiga hari :Mereka membunuh unta itu, maka berkatalah Shalih ;" Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan'. ( QS Hud 65). Cukup sudah, dalam 3 hari kemudian ancaman Shalih menjadi kenyataan dan kaum Tsamud dihancurkan ;Dan satu suara yang keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam ditempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Thamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Thamud.( QS Hud 67-68)
Temuan Arkeologis dari kaum Tsamud. Terhadap berbagai kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an, Tsamud adalah kaum yang saat ini telah banyak diketahui keberadaannya. Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang disebut dengan Tsamud benar-benar pernah ada.Masyarakat al Hijr sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Jadi kata "Tsamud" adalah merupakan nama dari suatu kaum, sementara kata al Hijr adalah salahsatu diantara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut.1 Menurut Penggambaran dari Pliny (ahli Geografi Yunani) membenarkan hal ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah letak dimana kaum Thamud berada dan hal inilah yang belakangan menjadi kota Al Hijr yang dikenal saat ini . Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad 8 SM) yang mengalahkan orang-orag ini dalam pertempuran di Arabia Selaan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai "Tamudaei"., yakni, "Tsamud" dalam tulisan Aristoteles, Ptolomeus dan Pliny . 2 Sebelum Nabi Muhammad SAW, diperkirakan antara 400-600 M , mereka punah secara total. Dalam Al Qur'an kaum 'Ad dan Tsamud selalu disebutkan secara bersama, lebih jauh ayat-ayat menasehatkan bahwa kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum 'Ad. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata;"Hai kaumku, sembahlah allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah dating bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlak kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktui Tuhan menjadi menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.QS Al A'raf 73-74) Sebagimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat sebuah hubungan antara kaum 'Ad dan Thamud, kaum 'Ad mungkin pernah menjadi bagian dari sejarah Thamud. Nabi Shalih merintahkan untuk mengambil peringatan dari kejadian mereka.Kaum 'Ad ditunjukkan kepada contoh dari kaum Nabi Nuh yang pernah hidup sebelum mereka. Sebagaimana kaum 'Ad mempunyai kaitan penting dengan sejarah kaum Thamud, kaum nabi Nuh juga mempunyai kaitan penting untuk sejarah laum 'Ad. Kaum-kaum ini saling mengetahui satu sama lain dan kemungkinan berasal dari satu garis keturunan yang sama. Dari sini dapat dibuat sebuah urut-urutan terhadap kejadian yang diceritakan dalam al Qur'an. Ketika kita menerima bahwa kaum Thamud mencul paling dulu di abad 8 SM, maka sebuah kronolog dapatlah ditarik berkaitan dengan hal ini. Yang terlebih dahulu dihancurkan setelah kaum Nuh adalah penghancuran kaum Lut, kemudian dalam masa Nabi Musa terjadi penenggelaman ( kemungkinan bear ia adalah Rhamses II) dan tentaranya di laut Merah. Berikutnya adalah dikirimkannya angin badai yang menghancurkan kaum 'Ad dan terakhir adalah penghancuran dari kaum Thamud. Hukuman terhadap kaum Nabi Nuh adalah yang pertamakalinya terjadi. Bila urut-urutan ini dapat dipertimbangkan, maka tabelnya adalah sebagai berikut : Nuh 3000 - 2500 SM Ibrahim dan Luth Awal 2000 SM Musa 1300 SM Hud dan 'Ad 1300 - ? SM Shalih dan Thamud 800 - ? SM ( Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) ) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS Al A'raf 74) Tentu saja urut-urutan ini tidak bisa dikatakan sangat tepat, namun hal ini menghasilkan sebuah rangkaian yang runut, baik menurut penggambaran dalam Al Qur'an dan data-data sejarah.Kita telah menyebutkan bahwa Al Qur'an menceritakan tentang adanya sebuah hubungan antara kaum 'Ad dan Thamud yang diingatkan untuk mengingat kejadian kaum 'Ad serta mengambil pelajaran dari penghancuran mereka. Meskipun letak antara kaum 'Ad dan Thamud secara geografis sangatlah berjauhan satu sama lain dan sepertinya tidak nampak adanya hubungan antara dua kaum ini, namun dikatakan di dalam ayat yang ditujukan kepada kaum Thamud untuk mengingat kaum 'Ad?. Jawabannya mengungkapkan sendiri hal itu, setelah melalui sebuah penyelidikan singkat dari sumber-sumber bahwa terdapat sebuah hubungan yang sangat kuat antara kaum Thamud dan 'Ad. Tsamud mengenal kaum 'Ad karena dua kaum ini sepertinya berasal dari satu asal usul yang sama. Britannica Micropedia menulis tentang orang-orang ini dalam sebuah tulisan berjudul "Thamud" ; Di Arabia Kuno, suku atau sekelompok suku yang tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Thamud kemungkinan asal-usulnya dari Arabia selatan, sebuah kelompok besar rupanya pindah ke Utara pada awal-awal tahun, secara tradisional berdiam di lereng gunung ( jabal) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan sejumlah besar batu bertulis dan gambar-gambar kaum Tsamud tidak hanya ada di Jabal Athlab , tetapi juga di seluruh Arabia tengah .3
Sebelumnya kita telah melihat bahwa kaum 'Ad adalah sekelompok orang yang hidup di Arabia Selatan. Adalah merupakan hal yang sangat signifikan bahwa banyak peninggalan kaum Thamud ditemukan pada daerah dimana kaum 'Ad pernah hidup, khususnya daerah di sekitar Hadhramaut, tempat anak cucu 'Ad mendirikan ibukotanya. Keadaan ini menunjukkan bahwa hubungan kaum 'Ad dan Thamud dicatat dalam Al Qur'an. Hubungan tersebut diterangkan dalam perkatan Nabi Shalih ketika mengatakan bahwa Thamud datang untuk menmggantikan 'Ad : Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Thamud saudara mereka Shalih. Ia berkata;"Hai kaumku, sembahlah allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah dating bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlak kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktui Tuhan menjadi menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.QS Al A'raf 73-74) | ||||||
Jumat, 25 Desember 2009
PROBLEMATIKA ISLAM
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan beramal sholeh seraya berkata: ‘sesngguhnya aku seorang muslim.” ( QS Al Fushilat : 33 )
Sesungguhnya Islam itu adalah agama samawi terakhir, ia berfungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Maka Allah SWT mewahyukan agama ini dalam nilai kesempurnaan yang tertinggi, kesempurnaan mana meliputi segi-segi fundaentil tentang duniawi dan ukhrawi, guna menghantarkan manusia kepada kebahagiaan lahir dan batin serta dunia dan akhirat. Sebab itu agama Islam bersifat universal dan eternal lagi sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntunan hati nurani manusia seluruhnya sebagai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia dalam menghadapi dan menerima agama Tuhan (Islam) yang hak.
Maka konsekwensinya, Islam menjadi agama dakwah, yakni agama yang harus disampaikan kepada seluruh manusia, yang telah ditegaskan pula dengan teks-teks yang jelas (nash-nash yang sharieh) dalam sumber ajarannya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Ajaran-ajaran Islam perlu diterapkan dalam segala bidang hidup dan kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang hakiki di dunia dan di akhirat, menjadikan Islam sebagai nikmat dan kebanggaan manusia. Seperti yang telah dicontohkan dalam penyebaran Islam pertama, zaman Rasulullah saw di abad 7 M, keudian di zaman pengganti-pengganti beliau dari Khulafaur Rasyidien, menyusul di zaman keemasan Islam. Sejarah membuktikan bahwa kedatangan Islam di zaman itu benar-benar menjadi juru selamat dan kebanggaan yang tiada taranya, manusia menikmati Islam sebagai karunia dan rahmat Ilahi.
Namun demikian, kita yang hidup dalam abad ini tidak boleh terpesona saja dan dinina-bobokkan oleh zaman keemasan Islam di masa lampau. Kita sendiri harus bangkit memikul tugas dan tanggung jawab, yaitu dakwah Islamiah, dimana sudah barang tentu harus dimulai dengan pemahaman Islam dengan sebaik-baiknya, kemudian pengenalan terhadap problematika Islam guna memberikan kemampuan dakwah Islamiah itu untuk menjawab tantangan dunia modern kini. Untuk suksesnya risalah suci itu dalam kondisi dunia modern tentu harus di topang oleh ilmu pengetahuan seperti telah pula diletakkan dasar-dasarnya oleh firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi saw. Karena itu dasar-dasar ajaran Islam ( keimanan, ‘ubudiyah, dan mu’amalah ) bukanlah merupakan ajaran dogmatik yang mati, tapi dapat didukung dan dianalisa dengan ilmu.
Dalam tugas memahamkan hakekat ajaran Islam, sebenarnya termasuk pula keharusan kita mengenal kondisi-kondisi objektif umat Islam untuk mendapatkan jawaban dan pemecahan yang tepat. Maka apabila kita membuka peta bumi posisi umat Islam sekarang ini, kita akan menyaksikan tantangan-tantangan berat terhadap umat Islam, baik dari dalam maupun dari luar. Keadaan itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di mana-mana di negara-negara Islam. Dari dalam, ialah keterbelakangan umat Islam dalam bidang ilmu dan teknologi. Hal mana berekor dengan keawaman dan kemiskinan umat Islam. Disamping itu, sikap kaum tradisionil kita yang tetap apriori terhadap kenyataan dunia modern. Masih banyak dikalangan umat ini yang belum menerapkan secara sempurna kewajiban-kewajiban pokoknya, seperti sholat, puasa bulan ramadhan, zakat, dan lain-lain. Tapi sementara yang telah aktif menunaikan kewajiban-kewajibannya, dalam bidang akidah masih tercampur dengan khurafat dan dalam bidang ‘ubudiyah tercampur dengan bid’ah.
Adapun tantangan-tantangan dari luar, ialah pengaruh-pengaruh Barat, baik dalam sektor kebudayaan maupun dari segi keagamaan. Dari masalah ini, umat Islam berhadapan dengan persoalan modernisasi. Bagaimana sikap umat Islam menghadapi modernisasi ?
Sementara itu dikalangan Islam ada kesan, seolah-olah modernisasi diidentikkan dengan westernisasi ( pembaratan ). Seperti yang telah terjadi di Turki di bawah pimpinan Kemal Attaturk dalam proses modernisasinya, telah menerima tehnik-tehnik Barat, hukum-hukum Barat secara komplit. Sedemikian jauh, Turki telah tercelup Barat. Sampai kepada upacara keagamaan dan ibadah. Ucapan-ucapan sholat dan teks adzan telah diterjemahkan semua ke dalam bahasa Turki. Akibatnya dunia Islam lainnya menilai mereka telah meninggalkan Islam dalam gerakan modernisasinya. Tapi sebaliknya, mereka berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata-mata memberikan interpretasi yang revolusioner tentang Islam. Sementara itu, dunia Islam lainnya tetap bertahan menegakkan ajaran-ajaran Islam yang murni, disamping berusaha melaksanakan ide modernisasi dengan tidak perlu menerima segala sesuatu yang ditawarkan oleh Barat. Tegak di atas prinsip : tetap mengamalkan Islam dalam usaha mencari modernitas.
Masalah pokok bagi kita, apakah Islam itu harus disesuaikan dengan zaman, atau Islamlah yang harus memimpin pertumbuhan dan perkembangan zaman. Sesungguhnya risalah Islam bukan gerbong-gerbong yang harus ditarik-tarik kemana-mana, tetapi ia adalah lokomotip yang bertenaga besar menarik berpuluh-puluh gerbong meluncur di atas suatu rel yang pasti. Umat Islam dalam kancah kehidupan bukanlah ma’mum tapi imam, umat pilihan dan pemimpin bagi manusia. Fungsi yang mulia ini, ditetapkan dalam firman Allah SWT dalam surah Al Imran : 110, “Kamu adalah umat yang paling baik, yang ditempatkan di tengah-tengah manusia, untuk memimpin kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan percaya penuh kepada Allah.”
Yang bersegi keagamaan, tantangan itu datangnya dari agama- agama Nasrani. Ia merupakan gerakan zendhing dan missi diorganisir secara internasional. Padanya, ada dua kekuatan besar, yaitu organisasi yang teratur rapi dan capital raksasa yang mampu membiayai gerakan-gerakan zendhing dan missinya. Ini adalah kenyataan yang merupakan salah satu arus zaman ini. Di sebelah itu, gerakan dakwah Islam hanya ditopang oleh organisasi dan kapital yang relatif lemah sebagai akibat dari penjajahan masa lampau dimana umat Islamlah yang secara langsung merasakannya sebagai rakyat Indonesia. Sudah barang tentu dalam kompetisi antara zendhing/missi dan dakwah, maka gerakan dakwah mengalami kesulitan-kesulitan berat. Tapi bagaimanapun dalam kompetisi ini, umat Islam mengharapkan suatu kompetisi yang sehat, jujur dan dalam batas-batas kode etik
Itulah masalah-masalah raksasa yang sedang di hadapi umat Islam dalam abad ke-21 ini. Belum pernah dunia Islam dihadapkan pada persoalan-persoalan yang demikian ruwetnya. Iman kita sendiri mengharuskan kita selalu berpandangan optimis dan teleskopis, sambil bekerja dan beramal sampai terwujudnya ajaran-ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan manusia dan terbentuknya system kebudayaan Islam yang memimpin.
Dalam usaha menjadikan Islam sebagai nikmat manusia, dan usaha menjawab tantangan zaman,serta usaha membangun kembali umat Islam menjadi lokomotip sejarah, perlu adanya usaha yang terus melakukan penggalian mutiara dan khazanah ajaran-ajaran fundamental Islam. Maksudnya diperlukan terus studi yang mendalam dan penafsiran kembali Dienul Islam dan masalahnya, sehingga benar-benar dapat diyakini dalam totalitasnya sebagai suatu aqidah, syari’ah dan way of life ( cara hidup ). Perlu diungkapkan tentang dasar-dasar pengertian Islam dan sejarahnya, nilai-nilai fundaentil dari ajaran-ajaran Islam, konsep-konsep dasar Islam tentang manusia, apa arti dan nilai iman dan ibadah bagi manusia, dan betapa pula bila Islam ditinjau dari segi hukum.
Dengan usaha menghidupkan terus api Islam dengan menggunakan informasi ilmu, maka setidak-tidaknya misunderstanding dapat dihilangkan pada sementara orang-orang yang sikap itu menjadi latar belakang munculnya kaum Islamophobi ( takut pada Islam ). Sikap misunderstanding terhadap Islam biasanya disebabkan adanya hal khusus yang ia tentang, padahal apa yang ditentangnya itu sama sekali bukan ajaran Islam, bahkan ditentang juga oleh Islam. Maka dengan informasi ilmu, Insya Allah manusia akan lebih cinta terhadap Dienul Islam. Seperti filosuf Inggris George Bernard Shaw berkata : “Saya selalu menaruh penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap agama Muhammad, oleh karena vitalitet hidupnya yang mengagumkan.” Dalam tulisan tulisan lain dia berkata : “Saya seperti Napoleon, lebih menyukai Islam. Saya yakin seluruh kerajaan Inggris akan menganut Islam modern, sebelum akhir abad ini. Pribadi Muhamad sangat sesuai dengan fikiranku. Saya memujanya dan mengambil pandangan-pandangan hidupnya dalam jumlah yang besar.”
Pada uraian tentang inflasinya peradaban Barat dan China, historikus Arnold Toynbee, dengan penuh kejujuran berkata : “Sekarang pengharapan kita untuk menolong peradaban dunia hanya tinggal terhadap Islam yang memang masih sehat dan kuat, belum pernah melumuri kebenarannya dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dibawanya sebagai modalnya menolong seluruh dunia kemanusiaan.”
Sungguh benar wahyu Tuhan yang disampaikan melalui Nabi-Nya, tentang bagaimana hendaknya sikap umat Islam dalam menghadapi setiap situasi dalam kancah kehidupan manusia. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” ( QS Ali Imran : 139 )
Dan Tuhan memperingatkan pula dengan firmannya : “Katakanlah! Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu hendaklah kamu bangkit menghadap kepada Allah, baik secara berdua-dua, maupun hanya dengan seorang diri sebatang kara, kemudian berpikirlah!” ( QS Saba : 46 )
Silahkan mengcopy artikel ini dengan syarat mencantumkan link ke blog ini : http://www.andryhisyam.co.cc/
Sesungguhnya Islam itu adalah agama samawi terakhir, ia berfungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Maka Allah SWT mewahyukan agama ini dalam nilai kesempurnaan yang tertinggi, kesempurnaan mana meliputi segi-segi fundaentil tentang duniawi dan ukhrawi, guna menghantarkan manusia kepada kebahagiaan lahir dan batin serta dunia dan akhirat. Sebab itu agama Islam bersifat universal dan eternal lagi sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntunan hati nurani manusia seluruhnya sebagai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia dalam menghadapi dan menerima agama Tuhan (Islam) yang hak.
Maka konsekwensinya, Islam menjadi agama dakwah, yakni agama yang harus disampaikan kepada seluruh manusia, yang telah ditegaskan pula dengan teks-teks yang jelas (nash-nash yang sharieh) dalam sumber ajarannya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Ajaran-ajaran Islam perlu diterapkan dalam segala bidang hidup dan kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang hakiki di dunia dan di akhirat, menjadikan Islam sebagai nikmat dan kebanggaan manusia. Seperti yang telah dicontohkan dalam penyebaran Islam pertama, zaman Rasulullah saw di abad 7 M, keudian di zaman pengganti-pengganti beliau dari Khulafaur Rasyidien, menyusul di zaman keemasan Islam. Sejarah membuktikan bahwa kedatangan Islam di zaman itu benar-benar menjadi juru selamat dan kebanggaan yang tiada taranya, manusia menikmati Islam sebagai karunia dan rahmat Ilahi.
Namun demikian, kita yang hidup dalam abad ini tidak boleh terpesona saja dan dinina-bobokkan oleh zaman keemasan Islam di masa lampau. Kita sendiri harus bangkit memikul tugas dan tanggung jawab, yaitu dakwah Islamiah, dimana sudah barang tentu harus dimulai dengan pemahaman Islam dengan sebaik-baiknya, kemudian pengenalan terhadap problematika Islam guna memberikan kemampuan dakwah Islamiah itu untuk menjawab tantangan dunia modern kini. Untuk suksesnya risalah suci itu dalam kondisi dunia modern tentu harus di topang oleh ilmu pengetahuan seperti telah pula diletakkan dasar-dasarnya oleh firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi saw. Karena itu dasar-dasar ajaran Islam ( keimanan, ‘ubudiyah, dan mu’amalah ) bukanlah merupakan ajaran dogmatik yang mati, tapi dapat didukung dan dianalisa dengan ilmu.
Dalam tugas memahamkan hakekat ajaran Islam, sebenarnya termasuk pula keharusan kita mengenal kondisi-kondisi objektif umat Islam untuk mendapatkan jawaban dan pemecahan yang tepat. Maka apabila kita membuka peta bumi posisi umat Islam sekarang ini, kita akan menyaksikan tantangan-tantangan berat terhadap umat Islam, baik dari dalam maupun dari luar. Keadaan itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di mana-mana di negara-negara Islam. Dari dalam, ialah keterbelakangan umat Islam dalam bidang ilmu dan teknologi. Hal mana berekor dengan keawaman dan kemiskinan umat Islam. Disamping itu, sikap kaum tradisionil kita yang tetap apriori terhadap kenyataan dunia modern. Masih banyak dikalangan umat ini yang belum menerapkan secara sempurna kewajiban-kewajiban pokoknya, seperti sholat, puasa bulan ramadhan, zakat, dan lain-lain. Tapi sementara yang telah aktif menunaikan kewajiban-kewajibannya, dalam bidang akidah masih tercampur dengan khurafat dan dalam bidang ‘ubudiyah tercampur dengan bid’ah.
Adapun tantangan-tantangan dari luar, ialah pengaruh-pengaruh Barat, baik dalam sektor kebudayaan maupun dari segi keagamaan. Dari masalah ini, umat Islam berhadapan dengan persoalan modernisasi. Bagaimana sikap umat Islam menghadapi modernisasi ?
Sementara itu dikalangan Islam ada kesan, seolah-olah modernisasi diidentikkan dengan westernisasi ( pembaratan ). Seperti yang telah terjadi di Turki di bawah pimpinan Kemal Attaturk dalam proses modernisasinya, telah menerima tehnik-tehnik Barat, hukum-hukum Barat secara komplit. Sedemikian jauh, Turki telah tercelup Barat. Sampai kepada upacara keagamaan dan ibadah. Ucapan-ucapan sholat dan teks adzan telah diterjemahkan semua ke dalam bahasa Turki. Akibatnya dunia Islam lainnya menilai mereka telah meninggalkan Islam dalam gerakan modernisasinya. Tapi sebaliknya, mereka berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata-mata memberikan interpretasi yang revolusioner tentang Islam. Sementara itu, dunia Islam lainnya tetap bertahan menegakkan ajaran-ajaran Islam yang murni, disamping berusaha melaksanakan ide modernisasi dengan tidak perlu menerima segala sesuatu yang ditawarkan oleh Barat. Tegak di atas prinsip : tetap mengamalkan Islam dalam usaha mencari modernitas.
Masalah pokok bagi kita, apakah Islam itu harus disesuaikan dengan zaman, atau Islamlah yang harus memimpin pertumbuhan dan perkembangan zaman. Sesungguhnya risalah Islam bukan gerbong-gerbong yang harus ditarik-tarik kemana-mana, tetapi ia adalah lokomotip yang bertenaga besar menarik berpuluh-puluh gerbong meluncur di atas suatu rel yang pasti. Umat Islam dalam kancah kehidupan bukanlah ma’mum tapi imam, umat pilihan dan pemimpin bagi manusia. Fungsi yang mulia ini, ditetapkan dalam firman Allah SWT dalam surah Al Imran : 110, “Kamu adalah umat yang paling baik, yang ditempatkan di tengah-tengah manusia, untuk memimpin kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan percaya penuh kepada Allah.”
Yang bersegi keagamaan, tantangan itu datangnya dari agama- agama Nasrani. Ia merupakan gerakan zendhing dan missi diorganisir secara internasional. Padanya, ada dua kekuatan besar, yaitu organisasi yang teratur rapi dan capital raksasa yang mampu membiayai gerakan-gerakan zendhing dan missinya. Ini adalah kenyataan yang merupakan salah satu arus zaman ini. Di sebelah itu, gerakan dakwah Islam hanya ditopang oleh organisasi dan kapital yang relatif lemah sebagai akibat dari penjajahan masa lampau dimana umat Islamlah yang secara langsung merasakannya sebagai rakyat Indonesia. Sudah barang tentu dalam kompetisi antara zendhing/missi dan dakwah, maka gerakan dakwah mengalami kesulitan-kesulitan berat. Tapi bagaimanapun dalam kompetisi ini, umat Islam mengharapkan suatu kompetisi yang sehat, jujur dan dalam batas-batas kode etik
Itulah masalah-masalah raksasa yang sedang di hadapi umat Islam dalam abad ke-21 ini. Belum pernah dunia Islam dihadapkan pada persoalan-persoalan yang demikian ruwetnya. Iman kita sendiri mengharuskan kita selalu berpandangan optimis dan teleskopis, sambil bekerja dan beramal sampai terwujudnya ajaran-ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan manusia dan terbentuknya system kebudayaan Islam yang memimpin.
Dalam usaha menjadikan Islam sebagai nikmat manusia, dan usaha menjawab tantangan zaman,serta usaha membangun kembali umat Islam menjadi lokomotip sejarah, perlu adanya usaha yang terus melakukan penggalian mutiara dan khazanah ajaran-ajaran fundamental Islam. Maksudnya diperlukan terus studi yang mendalam dan penafsiran kembali Dienul Islam dan masalahnya, sehingga benar-benar dapat diyakini dalam totalitasnya sebagai suatu aqidah, syari’ah dan way of life ( cara hidup ). Perlu diungkapkan tentang dasar-dasar pengertian Islam dan sejarahnya, nilai-nilai fundaentil dari ajaran-ajaran Islam, konsep-konsep dasar Islam tentang manusia, apa arti dan nilai iman dan ibadah bagi manusia, dan betapa pula bila Islam ditinjau dari segi hukum.
Dengan usaha menghidupkan terus api Islam dengan menggunakan informasi ilmu, maka setidak-tidaknya misunderstanding dapat dihilangkan pada sementara orang-orang yang sikap itu menjadi latar belakang munculnya kaum Islamophobi ( takut pada Islam ). Sikap misunderstanding terhadap Islam biasanya disebabkan adanya hal khusus yang ia tentang, padahal apa yang ditentangnya itu sama sekali bukan ajaran Islam, bahkan ditentang juga oleh Islam. Maka dengan informasi ilmu, Insya Allah manusia akan lebih cinta terhadap Dienul Islam. Seperti filosuf Inggris George Bernard Shaw berkata : “Saya selalu menaruh penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap agama Muhammad, oleh karena vitalitet hidupnya yang mengagumkan.” Dalam tulisan tulisan lain dia berkata : “Saya seperti Napoleon, lebih menyukai Islam. Saya yakin seluruh kerajaan Inggris akan menganut Islam modern, sebelum akhir abad ini. Pribadi Muhamad sangat sesuai dengan fikiranku. Saya memujanya dan mengambil pandangan-pandangan hidupnya dalam jumlah yang besar.”
Pada uraian tentang inflasinya peradaban Barat dan China, historikus Arnold Toynbee, dengan penuh kejujuran berkata : “Sekarang pengharapan kita untuk menolong peradaban dunia hanya tinggal terhadap Islam yang memang masih sehat dan kuat, belum pernah melumuri kebenarannya dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dibawanya sebagai modalnya menolong seluruh dunia kemanusiaan.”
Sungguh benar wahyu Tuhan yang disampaikan melalui Nabi-Nya, tentang bagaimana hendaknya sikap umat Islam dalam menghadapi setiap situasi dalam kancah kehidupan manusia. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” ( QS Ali Imran : 139 )
Dan Tuhan memperingatkan pula dengan firmannya : “Katakanlah! Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu hendaklah kamu bangkit menghadap kepada Allah, baik secara berdua-dua, maupun hanya dengan seorang diri sebatang kara, kemudian berpikirlah!” ( QS Saba : 46 )
Silahkan mengcopy artikel ini dengan syarat mencantumkan link ke blog ini : http://www.andryhisyam.co.cc/
Langganan:
Postingan (Atom)