Kamis, 31 Desember 2009

FIR'AUN YANG DI TENGGELAMKAN

(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami Tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.( QS Al Anfal 54).
Peradaban Mesir kuno berada dalam waktu yang sama dengan negara kota yang berada di Mesopotamia, dikenal sebagai satu diantara peradaban tertua di dunia dan dikenal dengan pengorganisasian negara dan paling maju dalam tatanan sosial dijamannya. Fakta bahwa mereka telah menemukan tulisan/huruf pada milinium 3 SM dan menggunakannnya, bahwa mereka juga memanfaatkan sungai Nil dan mereka terselamatkan dari berbagai bahaya luar dalam kaitannya dengan setting alamiah negara tersebut, nyata-nyata telah memberikan sumbangan yang besar terhadap bangsa Mesir dalam peningkatan peradaban mereka.
Namun, masyarakat yang "beradab" ini, pada masa berlakunya "pemerintahan Fir'aun (Pharaoh)" menggunakan system kafir yang disebutkan secara jelas dalam Aal qur'an dalam bahasa yang amat jelas dan lugas. Mereka bersifat congkak, angkuh dengan kebanggaan diri, mengesampingkan dan mengutuk. Dan akhirnya baik peradaban mereka yang maju, tatanan sosial politik bahkan dengan tentara yang kuat sekalipun tidak bisa menyelamatkan ketika mereka dihancurkan.
Wewenang Sang Fir'aun (Pharaoh)
Peradaban bangsa Mesir sangat mendasarkan pada kesuburan sungai Nil. Bangsa Mesir telah menetap di lembah Nil dikarenakan melimpahnya air di sungai ini dan karena mereka bisa mengolah tanah dengan persediaan air yang telah diberikan oleh sungai yang tidak tergantung kepada musim hujan. Ahli sejarah Ernest H Gombrich mengaakan dalam tulisannya bahwa Afrika sangatlah panas dan terkadang tidak pernah sama sekali turun hujan selama berbulan-bulan. Inilah sebabnya mengapa banyak daerah di benua yang besar ini sangat luar biasa keringnya. Bagian-bagian dari benua ini tertutup oleh lautan pasir yang sangat luas. Di kedua sisi sungai Nil juga tertutup oleh pasir dan di Mesir sendiripun jarang terjadi hujan. Namun di negeri ini hujan tidaklah terlalu dibutuhkan karena sungai Nil yang mengalir melintas ditengah-tengah seluruh negara .1
Jadi siapapun yang nenguasai sungai Nil yang sangtlah penting tersebut maka dialah yang bisa menguasai asset terbesar perdagangan dan pertanian Mesir. Pharaoh bisa melangengkan dominasinya atas Mesir dengan jalan ini.
Bentuk sungai Nil yang sempit dan memanjang di Lembah Nil tidak memungkinkan unit-tunit kependudukan yang berada disekitar sungai untuk terlalu mengembangkan wilayahnya. Itulah sebabnya bangsa Mesir lebih memilih untuk membentuk sebuah peradaban yang terdiri dari kota-kota kecil dan perkampungan daripada kota-kota besar. Faktor inilah yang memperkuat dominasi Pharaoh atas masyarakatnya.
Raja Menes dikenal sebagai pharaoh Mesir pertama yang menyatukan seluruh Mesir kuno untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam sebuah negara persatuan kurang lebih 3000 SM. Kenyaaan bahwa istilah "Pharaoh " asal usulnya merujuk pada istana dimana raja Mesir berada, namun pada saat itu menjadi gelar dari raja-raja Mesir. Inilah sebabnya mengapa raja yang memerintah Mesir kuno mulai disebut " Pharaoh".
Sebagai pemilik, pengatur dan penguasa dari seluruh negara dan wilayah-wilayahnya, maka Pharaoh diterima sebagai pengejawantahan dari dewa yang terbesar dalam kepercayaan Mesir kuno yang Politheistik dan menyimpang. Administrasi dari wilayah Mesir, pembagian mereka, pendapatan mereka, singkatnya, seluruh pertanian, jasa dan produksi dalam batas-batas wilayah negara dikelola dalam kekuasan Pharaoh.
Absolutisme dalam masa kepemimpinannya telah melengkapi penguasaannya terhadap negara dengan kekuasaan yang dapat melakukan semua hal sesuai dengan keinginannnya. Tepat pada dinasti pertama kekuasaannya Menes yang menjadi raja Mesir yang berhasil menyatukan Hulu dan Hilir Mesir, Sungai Nil diserahkan kepada publik dengan menggunakan saluan-saluran air. Disamping itu seluruh produksi berada dibawah penguasaan dan seluruh produksi barang dan jasa diberikan untuk kepentingan sang raja. Rajalah yang mendistribusikan dan membagi barang dan jasa dalam proporsi yang diinginkan oleh rakyat. Hal ini tidaklah sulit bagi raja yang telah memiliki suatu kekuasaan di daeah tersebut untuk menempatkan rakyat dalam kepatuhan Raja Mesir atau yang nantinya bernama Pharaoh dan dia mengaku dirinya sebagai Makhluk suci yang memegang kekuasan yang besar dan mencakupi semua kebutuhan rakyatnya dan ia mengubah dirinya menjadi tuhan. Para Pharaoh benar-benar percaya bahwa diri mereka adalah tuhan.
Kata-kata Pharaoh (Fir'aun) disebutkan dalam al Qur'an yang digunakan dalam percakapannya dengan Musa, hal ini membuktikan bahwa mereka percaya atas ketuhanan Pharaoh. Ia mencoba mengancam Musa dengan mengatakan ;" Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". ( QS Asy-Syu'ara 29), dan berkata Fir-aun kepada orang-orang di sekelilingnya ;" Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku". (QS Al Qashas 38).
Ia mengatakan ini semua karena menganggap dirinya adalah tuhan.
Kepercayaan relijius bangsa Mesir
kebanyakan berdasarkan kepada
pengabdian terhadap tuhan-tuhan
mereka. �Perantara� antara tuhan-
tuhan ini dengan manusia adalah para
pendeta yang merupakan bagian dari
para pemuka masyarakat.

Karena berurusan dengan ilmu magis
dan sihir, para pendeta menjadi kelas
penting yang digunakan oleh para
fir�aun untuk menjaga kepatuhan
rakyatnya.

Kepercayaan Agama
Menurut Herodotus seorang ahli sejarah, Mesir kuno adalah umat yang paling beriman di dunia. Namun agama mereka bukanlah agama yang sejati, namun merupakan sebuah bentuk politheisme yang sesat. Dan mereka tidak bisa meningalkan agama sesat mereka karena mereka orang-orang yang sangat kolot (konservatif).
Bangsa Mesir kuno sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan alam dimana mereka hidup. Keadaan alam Mesir menjaga negara tersebut terhadap serangan dari luar secara sempurna. Mesir dikelilingi oleh gurun pasir, pegunungan dan lautan disemua sisi. Serangan mungkin dilakukan terhadap negara tersebut hanya dengan kemungkinan dua jalan, namun mereka dapat dengan mudah mempertahankan diri. Bangsa Mesir menjadi terisolasi dari dunia luar berkat faktor-faktor alam ini. Namun dengan sifat fanatik yang berlebihan sehingga bangsa Mesir memperoeh cara berpikir yang membelenggu mereka terhdap perkembangan dan hal-hal yang baru dan mereka sangatlah kolot terhadap agama mereka. Agama nenek moyang mereka yang disebutkan berkali-kali dalam Al Qur'an menjadi nilai yang paling penting bagi mereka.
Inilah sebabnya Fir'aun dan lingkungan dekatnya mengingkari Musa dan Harun ketika mengumumkan Agama Sejati dengan mengatakan ;
Mereka berkata; "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?, kami tidak akan mempercayai kamu berdua".(QS. Yunus: 78)
Agama/kepecayaan dari bangsa Mesir kuno dibagi ke dalam cabang-cabang, yang paling utama menjadi agama resmi negara adalah kepercayaan terhadap orang-orang dan adanya kehidupan setelah kematian.
Menurut agama resmi negara, Fir'aun (Pharaoh) adalah mahkluk suci, dia adalah pengejawantahan dari tuhan-tuhan mereka di muka bumi dan tujuannya adalah untuk menyelenggarakan keadilan dan melindungi mereka di dunia.
Kepercayaan yang berkembang luas dikalangan masyarakat sangatlah rumit dan unsur-unsur yang berbenturan dengan kepercayaan resmi negara ditekan oleh pemerintahan Fir'aun. Pada dasarnya mereka percaya kepada banyak tuhan dan tuhan ini biasanya digambarkan memiliki kepala binatang dengan tubuh manusia.
Kehidupan setelah mati merupakan bagian terpenting dalam kepercayaan bangsa Mesir. Mereka percaya bahwa roh akan terus hidup setelah jasad mati. Sesuai dengan hal ini roh-roh dari orang mati dibawa oleh malaikat-malaikat tersebut kepada tuhan sebagai hakim dan 4 saksi hakim lainnya, sebuah skala derajat tersusun dipertengahan dan jantung dari ruh/jiwa ditimbang dalam skala ini. Bagi mereka yang mati dengan timbangan kebaikan lebih banyak hidup dalam keadaan penuh dengan keindahan dan hidup dalam kebahagiaan, bagi mereka yang timbangannya lebih berat dengan kejahaan dikirim ke satu tempat dimana mereka mendapatkan siksaan yang berat. Disana mereka disiksa dalam keabadian oleh sebuah makhluk aneh yang disebut dengan "Pemakan Kematian".
Kepercayaan bangsa Mesir terhadap kehidupan di hari kemudian jelas-jelas menunjuukan paralelisme (kesamaan padangan) dengan kepercayaan monotheistik dan agama sejati (yang benar). Dan perintah-perintah suci telah mencapai peradaban Mesir kuno, namun agama ini kemudian diselewengkan dari monotheisme berubah menjadi Pholytheisme. Seperti telah diketahui bahwa para pemberi peringatan menyerukan orang-orang untuk meng-Esakan Allah dan memerintahkan mereka untuk menjadi hamba-Nya, diutus di Mesir dari masa ke masa sebagaimana mererka diutus untuk seluruh penduduk dunia pada satu waktu atau waktu yang lain. Salah satunya adalah Nabi Yusuf yang kehidupannya secara terperinci diceritakan dalam Al Qur'an. Sejarah Nabi Yusuf adalah sangat penting karena terdapat kehadiran anak-anak Israel di Mesir dan bagaimana mereka menatap disana.
Sebaliknya dalam sejarah terdapat keterangan yang menyatakan bahwa banyak orang Mesir yang menyerukan orang-orang terhadap kepercayaan -kepercayaan Monotheistik bahkan sebelum nabi Musa sekalipun, salah satu dari mereka adalah Pharaoh(Fir'aun) yang paling penting dalam sejarah Mesir, dia adalah Amenhotep IV.
Fir'aun Amenhotep IV Yang Monotheistik
Fir'aun-fir'aun Mesir pada umumnya bersifat brutal, menindas, suka berperang dan orang-orang yang bengis. Secara umum menereka mengadopsi agama politheisme Mesir dan mendewa-dewakan diri mereka sendiri melalui agama ini.
Namun terdapat seorang Fir'aun dalam sejarah Mesir yang sangat-sangat berbeda dengan yang lainnya. Fir'aun ini mempertahankan kepercayan terhadap sang pencipta Yang Tunggal dan karenanya ia mendapakan perlawanan yang sangat kuat dari para pendeta Amon, yang mereka itu mendapatkan keuntungan dari agama politheisme dan dengan beberapa prajurit yang membantu mereka, sehingga akhirnya Fir'aun itu terbunuh. Fir'aun ini adalah Amenhotep IV yang mulai berkuasa di abad XIV SM.
Ketika Fir'aun Amenhotep IV dinobatkan sebagai raja pada 1375 SM, ia menjumpai kekolotan (konservatisme) dan tradisionalisme yang telah berlangsung selama berabad-abad, sehingga susunan masyarakat dalam hubungannya dengan istana kerajaan terus berlanjut tanpa adanya perubahan. Masyarakat menutup pintu rapat-rapat terhadap peristiwa dari luar dan kemajuan agama. Konservatisme yang sangat keras ini juga dikatakan oleh para pengembara Yunani kuno sebagai diakibatkan oleh kondisi geografis alam Mesir seperti disebutkan diatas.
Sesuai dengan ketentuan Fir'aun, agama resmi menuntut kepercayaan yang tidak terbatas dalam segala hal yang lama dan tradisional. Namun Amenhotep IV tidak menyetujui agama resmi tersebut. Ahli sejarah Ernst Gombrich menulis :
Amenhotep IV melakukan banyak perubahan terhadap banyak kebiasaan yang disucikan oleh tradisi tua dan tidak ingin untuk melakukan penyembahan terhadap tuhan yang berbentuk dalam berbagai simbol yang aneh dari kaumnya. Baginya hanya satu Tuhan yang perkasa yaitu Aton, yang disembahnya dan yang diejawantahkannya dalam bentuk matahari Ia menyebut dirinya setelah tuhannya, sebagai Akhenaton, dan ia memindahkan istananya menjauh dari jangkauan para pendeta dari tuhan-tuhan yang lain ke suatu tempat yang sekarang disebut dengan El-Amarna .2
Setelah kematian ayahnya, Amenhotep IV muda mendapatkan tekanan yang hebat. Tekanan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ia membangun sebuah agama yang berdasarkan paham monotheisme dengan mengubah agama tradisional politheisme Mesir dan memcoba untuk melakukan perubahan-perubabahan yang radikal dalam berbagai bidang. Namun para pemimpin Thebes tidak memperbolehkannya untuk menyampaikan pesan dari agama ini. Amenhotep IV dan orang-orangnya kemudian berpindah dari kota Thebes dan bermukim di Tell-El-Amarna. Disini mereka membangun sebuah kota baru yang modern yang dinamakan "Akh-et-aton". Amenhotep IV mengubah namanya yang berarti "kesenangan/kesayangan dari sang Amon" menjadi Akh-en-aton yang berarti "Tunduk kepada sang Aton". Amon adalah nama yang diberikan untuk patung (totem) yang terbesar dalam kepercayaan politheisme bangsa Mesir. Menururt Amenhotep IV, Aton adalah "pencipta dari surga dan dunia", penyamaan nama sebutannya untuk Allah.
Merasa terganggu dengan perkembangan ini, maka para pendeta Amon ingin merenggut kekuatan Akhenaton dengan menciptakan krisis ekonomu di negaranya. Akhenaton akhirnya terbunuh dengan cara diracun oleh para komplotan yang ingnin menghancurkannya. Para Fir'aun berikutnya merasa khawatir dan merekapun tenggelam dalam pelukan pengaruh para pendea tersebut.
Setelah Akhenaton, muncullah Fir'aun yang berkuasa dengan kekuatan militer. Hal ini sekali lagi mengakibatkan tradisi lama politheisme menjadi berkembang luas dan adanya usaha untuk kembali ke masa lalu. Beberapa abad kemudian, Ramses II yang berkuasa paling lama dalam sejarah Mesir diangkat menjadi raja. Menurut banyak ahli sejarah, Ramses II adalah Fir'aun yang menyiksa Bani Israel dan berperang terhadap Nabi Musa . 3


Datangnya Musa Sang Nabi
Karena kefanatikan mereka yang sangat hebat maka bangsa Mesir kuno tidak mau meninggalkan kepercayaan lama mereka. Beberapa orang datang kepada mereka dengan mengumumkan risalah untuk menyembah hanya Allah, namun kaum dari Fir'aun selalu kembali ke kepercayaan mereka yang sesat. Akhirnya, Nabi Musa diutus oleh Allah sebagai pembawa pesan (rasul) bagi mereka, dengan dua alasan, karena mereka telah mengambil sebuah sistem penuh kepalsuan yang bertentangan dengan agama sejati dan juga karena mereka telah memperbudak Bani Israel. Musa diperintahkan selain untuk mengundang bangsa Mesir terhadap agama yang haq dan juga untuk menyelamatkan anak-anak Israel dari perbudakan dan menunjukkan kepada mereka jalan yang benar. Dalam Al qur'an hal ini diebutkan :
Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesugguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan khidup anak-anak peempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk kedalam orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. ( QS. Al-Qashash 3-6).
Fir'aun ingin mencegah bani Israel untuk bertambah jumlahnya dengan cara membunuh semua bayi laki-laki yang baru lahir. Inilah sebabnya mengapa ibunda Musa dengan mendapatkan ilham dari Allah SWT menempatkan Musa ke dalam keranjang dan menghanyutkannya ke sungai yang mengarah ke arah istana Fir'aun. Di dalam Al Qur'an ayat yang menyebutkan hal ini adalah :
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa;"Susukanlah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan jangnalah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikanya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentara-tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Fir'aun;" (ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari. ( QS Al Qhashas 7-9).
Orang-orang yang diperbudak oleh Fir'aun. Khususnya pada abad Kerajaan baru, kaum minoritas yang hidup di negara tersebut dipaksa untuk bekerja dalam proyek konstruksi yang sangat berat. Anak-anak Israel termasuk diantara minoritas ini. Gambar sebelah atas menunjukkan budak-budak yang nampak bekerja dalam pembangunan sebuah kuil sepertinya sebagain besar adalah anak-anak Israel. Gambar dibawah menunjukkan teknik persiapan yang dilakukan oleh para budak anak-anak Israel, sebelum melakukan pembuatan proyek konstruksi. Para budak sedang membuat batu bata dengan membakar lumpur di dalam api dan mempersiapkan adukan semen.
Istri Fir'aun mencegah pembunuhan terhadap (bayi) Musa dan mengangkatnya menjadi anak. Inilah sebabnya Musa menghabiskan wktu kecilnya di istana Fir'aun. Dan dengan pertolongan dari Allah ibu kandungnya dibawa ke istana sebagai ibu asuh Musa.
Ketika ia beranjak dewasa, suau hari Musa melihat penganiayaan terhadap seorang anak Israel oleh seorang Mesir dan Musa pun melerainya dan iapun memukul orang Mesir tersebut yang mengakibatkan kematian. Disamping kenyataan bahwa Musa hidup di istana Fir'aun dan ia telah diangkat anak oleh sang Ratu, maka pimpinan kota memutuskan bahwa hukuman untuk Musa adalah hukuman mati. Mendengar ini, maka Musa pun melarikan diri dari Mesir dan datang ke Madyan. Pada akhir masa ia berada di sana, Allah berfirman langsung kepadanya dan Allah mengkaruniakan Kenabian kepadanya. Ia diperintahkan untuk kembali ke Fir'aun dan menyampaikan pesan-pesan dari agama Allah untuk Fir'aun.
Diduga menurut banyak ahli sejarah sebagai Fir'aun yang disebutkan didalam Al Qur'an, Ramses II tampak sedang membunuh beberapa budak yang ia tangkap. Sebagaimana lukisan dinding ini juga mengungkapkan bahwa Fir'aun mengidolakan dan menggambarkan diri mereka sebagai pejuang-pejuang yang perkasa. Mereka dilambangkan sebagai pahlawan-pahlawan yang tingi dengan bahu lebar yang dapat mengalahkan sejumlah orang pada waktu bersamaan.
Istana Fir'aun
Musa dan Harun pergi ke Fir'aun dalam kepatuhannya terhadap perintah Allah dan menyampaikan kepadanya pesan-pesan dari agama yang sejati. Mereka memina Fir'aun untuk menghentikan penyisaannya terhadap anak-anak Israel dan membiarkan mereka pergi bersama Musa dan Harun. Hal ini tidak bisa diterima oleh Fir'aun, apalagi Musa yang telah dipeliharanya bertahun-tahun semenjak kecil dan yang nantinya kemungkinan besar adalah menjadi pewaris tahta, menentang Fir'aun dan berbicara kepadanya dengan cara seperti itu. Dengan alasan itu Fir'aun menuduh Musa tidak berterima kasih kepadanya:
Fir'aun menjawab;" Bukankah kami telah mengasuhmu di dalam (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberpa tahun dari umurmu, dan kamu telah berbua suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna". ( QS Asy Syu'araa; 18-19).
Atas: Karena menganggap diri mereka mahkluk suci, para fir�aun berupaya untuk tampak lebih unggul dibanding orang- orang lain. Bawah: Tawanan perang yang tertangkap oleh orang Mesir tampak sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati mereka.
Fir'aun mencoba bermain-main dengan perasaan Musa dan mempengaruhi kata hatinya. Fir'aun berkata bahwa ia dan istrinyalah yang telah membesarkan Musa, maka Musa lah seharusnya yang harus patuh kepada Fir'aun. Terlebih lagi Musa telah membunuh seorang Mesir. Semua tindakan ini mengharuskan hukuman yang sangat berat menurut bangsa Mesir. Keadaan yang emosional yang dicoba diciptakan oleh Fir'aun juga ditujukan untuk mempengaruhi para pemimpin dari rakyatnya, sehingga merekapun menyetujui apa yang disampaikan oleh Fir'aun.
Dilain pihak, risalah yang disampaikan oleh agama yang haq yang disampaikan oleh Musa mengurangi kekuasan Fir'aun dan menurunkan derajatnya sama seperti halnya orang-orang kebanyakan. Dari kenyataan ini akan terungkap bahwa ia bukanlah tuhan dan terlebih lagi ia akan dipaksa untuk tunduk kepada Musa. Disamping itu jika ia membebaskan anak-anak Israel, ia akan kehilangan banyak tenaga kerja yang penting dan hal tersebut dapat menimbulkan hal yang sangat berbahaya.
Berdasarkan alasan ini, maka Fir'aun bahkan tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Musa. Ia mencoba untuk meledeknya dan mencoba untuk mengubah pokok pembicaraan dengan menanyakan pertanyaan yang tidak berarti. Pada saat yang sama ia mencoba untuk menempatkan Musa dan Harun sebagai orang-orang yang membuat keonaran dan menuduh mereka mempunyai motif-motif politik tertentu. Akhirnya baik Fir'aun maupun para pemimpin kaum serta orang-orang dalam lingkaran dekat mereka kecuali para tukang sihir tidak mematuhi Musa dan Harun. Mereka tidak mengikuti agama yang haq yang telah ditunjukkan kepada mereka. Itulah sebabnya Allah segera mengirimkan bencana kepada mereka.

IRamses II tampak dalam kereta perangnya menghalau sejumlah besar pasukan musuh. Seperti halnya yang lain hal ini merupakan gambaran imajinasi para pelukis berdasarkan scenario/keinginan dari Fir'aun.

Perang Kadesh. Dalam pertempuran antara Ramses dan Hittit, dipalsukan dalam sejarah bangsa Mesir sebagai kemenangan besar Fir'aun. Kenyataannya, Fir'aun diselamatkan dari kematian pada saat-saat terakhir dan ia terpaksa melakukan perdamaian.





Bencana Yang Menimpa Fir'aun dan Lingkaran Dekatnya.
Fir'aun dan lingkaran dekatnya sangatlah terlibat secara mendalam terhadap politheisme mereka dan ini adalah " agama nenek moyang mereka" yang mereka tidak terpikirkan untuk meninggalkannya. Meskipun ada dua mukjizat dari Musa, yaitu tangannya yang mengeluarkan sinar putih serta tongkatnya yang berubah menjadi ular, tidaklah cukup bagi mereka untuk berpindah dari rasa tahayul mereka. Mereka justru mengungkapkan rasa tersebut secara terbuka. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan pernah beriman kepadamu". (QS Al A'raf 132).
Karena perilaku mereka, Allah mengirimkan sejumlah bencana kepada mereka sebagai "mukjizat tersendiri" untuk membuat mereka merasakan azab di dunia, sebelum mereka mendapatkan siksaan yang abadi di alam keabadian. Pertama-tama mereka diberikan masa kekeringan yang panjang dan kelangkaan panen. Berkaitan dengan hal ini dikatakan dalam Al Qur'an: "Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. (QS Al A'raf 130).
Mesir mendasarkan system pertanian mereka pada sungai Nil dan itulah sebabnya mereka tidak terpengaruh oleh perubahan keadaan alam. Namun sebuah bencana yang tak terduga menimpa mereka karena Fir'aun dan lingkaran dekatnya yang terlalu banggga dan sombong terhadap Allah dan mengingkari Rasul Nya. Kemungkinan besar dengan berbagai sebab, permukaan sungai Nil menyusut secara mencolok dan saluran irigasi yang berasal dari sungai tidak mampu mengalirkan air yang cukup untuk lahan pertanian mereka. Panas yang menyengat menyebabkan tanaman pertanian mongering. Dengan demikian bencana yang datang menimpa Fir'aun dan lingkaran dekatnya berasal dari berbagai arah yang tidak pernah diduga sama sekali, termsuk juga dari sungai Nil yang mereka andalkan. Musim kemarau yang berkepanjangan mencemaskan hati Fir'aun yang sebelumnya biasa berkata kepada kaumnya sebagai berikut: "Hai kaumku, bukankah kerajan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah ) singai-sungai ini mengalir dibawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?". (QS AZ Zukhruf 51).
Bahkan mereka malahan menuduh bahwa semua kejadian tersebut disebabkan oleh kesialan yang dibawa oleh Musa dan bani Israel. Mereka dikuasai oleh semacam keyakinan karena kepercayan takhayul mereka dan agama nenek moyang mereka. Karenanya memilih untuk menderita bencana yang hebat, namun apa yang menimpa mereka tidaklah terbatas sampai disini. Ini hanyalah sebuah permulaan. Selanjutnya Allah mengirimkan kepada mereka serangkaian bencana lain. Bencana-bencana ini disebutkan sebagai berikut dalam Al Qur'an: " Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa". ( QS Al A'raaf 133).
Bencana-bencana yang Allah kirimkan terhadap Fir'aun dan kaumnya disekitarnya yang juga melakukan pengingkaran juga disebutkan dalam Perjanjian Lama yang sebagaimana juga disebutkan dalam Al Qur'an :'
Dan terdapat darah diseluruh penjuru tanah Mesir (Eksodus 7.21).
Dan bila kamu tidak megijinkan mereka pergi, tunggulah, Aku akan menghantam seluruh kawasan mereka (Mesir-pen) dengan katak, dan sungai akan mengalirkan katak-katak yang berlimpah-ruah, yang kemudian katak itu akan naik, masuk ke rumah, ke bilik/kamar tidur, dan di atas tempat tidur mereka, dan masuk ke rumah para pembantu, dan ke orang-orang banyak, masuk ke tungku-tungku masak serta bak adonan (makanan-pen) mereka. (Eksodus, 8: 2-3)
Dan Tuhan berkata kepada Musa, "Sampaikan kepada Harun (Aaron), renggangkanlah tangkai/batang pohon, dan pukullah debu di tanah, niscaya seluruh tanah mesir akan penuh dengan kutu." (Eksodus, 8: 16)
Dan belalang muncul di seluruh daratan Mesir, dan berhenti di seluruh batas pantai Mesir, sehingga mereka sangat sedih, sebelum mereka, tidak pernah ada wabah belalang seperti itu, dan tidak pula terjadi sesudah mereka. (Eksodus: 10:14)
Kemudian, para ahli ilmu hitam berkata kepada Pharaoh, Ini adalah jari Tuhan: dan hati Pharaoh pun mengeras, dan tidak mendengarkan mereka, sebagaimana apa yang telah dikatakan Tuhan. (Eksodus, 8:19)
Bencana yang mengerikan terus terjadi menimpa Fir'aun dan lingkaran dekatnya . Beberapa bencana ini disebabkan olehpen yembahan objek tertentu sebagai tuhan orang-orang yang musyrik ini. Sebagai contoh, sungai Nil dan katak dikeramatan oleh mereka dan mereka dewa-dewkan. Mereka mengharapkan petunjuk dari "tuhan-tuhan" mereka dan memintakan pertolongan mereka, maka Allah menghukum mereka melalui "tuhan-tuhan" mereka sendiri, merekapun tidak bisa melihat kesalahan yang mereka lakukan dan merekapun harus membayar atas kekeliruan yang mereka lakukan.
Berdasarkan penafsiran dari perjanjian Lama, "darah" maksudnya adalah berubahnya sungai Nil menjadi darah. Hal ini dapat diterangkan sebagai metaphora (perumpamaan) bahwa sungai Nil berubah menjadi merah. Berdasarkan kepada sebuah penafsiran, dikatakan bahwa yang mengakibatkan sungai menjadi berwarna merah adalah disebabkan oleh sejenis bakteri.
Sungai Nil adalah sumber utama dari kehidupan bangsa Mesir. Kerusakan yang terjadi terhadap sumber ini dapat berarti kematian bagi seluruh bangsa Mesir. Jika bakteri telah menutupi seluruh permukaam sungai Nil secara penuh sehingga mengubahnya menjadi merah, hal ini dapat mengakibatkan setiap mahkluk hidup yang menggunakan air tersebut akan terinfeksi oleh bakteri ini.
Keterangan berdasarkan penelitian saat ini yang menyebabkan warna air menjadi merah dikarenakan oleh protozoa, zooplankton, ganggang (phytoplankton) yang berkembang baik yang hidup di air asin maupun air tawar dan dinoflagellata. Aneka perkembangan tanamanm jamur ataupun protozoa menghisap oksigen dari dalam air dan menghasilkan racun yang berbahaya baik bagi ikan maupun katak.
Penyebutan dari peristiwa pengungsian anak-anak Israel disebutkan dalam Kiab Injil, Patricia A Tester dari National Marine Fisheries Service menulis dalam Annals of te New York Academy of Science mencatat bahwa dipekirankan 50 - 5000 spesies phytoplankton beracun, dan bagi yang beracun tersebut dapat membahyakan kehidupan laut. Dalam penerbitan yang sama, Ewen C.D. Todd dari badan Kesehatan Kanada, berdasarkan data prasejarah dan data sejarah idsebutkan bahwa hampir 24 contoh dari spesies phytoplankton menyebabkan berbagai macam wabah penyakit diseluruh penjuru dunia. W.W. Carmichael dan I.R. Falconer mencatat penyakit-penyakit yang berkaitan dengan ganggangbiru-hijau yang hidup di air tawar. Seorang ahli Ekologi perairan Joann M. Burkholder dari North Carolina State University menyebutkan bahwa sejenis dinoflagellata Pfiesteria piscimorte ( yang ditemukan di perairan muara ) spesies ini seperti namanya menunjukkan, dapat membunuh ikan .1
Di dalam masa Fir'aun serangkaian bencana ini muncul dan terjadi. Menurut skenario ini, ketika sungai Nil terkontaminasi (tercemari) maka ikan-ikan pun juga mati dan bangsa Mesir pun dicabut salah satu sumber nutrisinya yang sangat penting. Tanpa adanya ikan pemangsa, maka katak-katakpun dapat berkembang biak dengan sangat cepat baik dikolam-kolam maupun di sungai Nil sehingga terjadilah kelebihan populasi katak di sungai, akhirnya berpindah hewan yang berracun dan lingkungan yang telah membusuk berpindah ke daratan, disini merekapun mati dan membusuk bersama dengan ikan-ikan, Sungai Nil dan tanah yang berdekatan dengannya menjadi membusuk dan airnya berbahaya untuk diminum maupun digunakan untuk mandi. Terlebih lagi punahnya spesies katak menyebabkan berbagai jenis serangga seperti belalang, caplak dan kutu berkembangbiak secaa besar-besran.
Akhirnya, meski bagaimanapun bencana tersebut terjadi dan dampak yang diakibatkannya, baik Fir'aun maupun kaumnya tetap tidak berpaling kepada Allah untuk memperhatikannya, namun mereka tetap meneruskan kesombongannya.
Fir'aun dan lingkaran dekatnya yang sangat munafik, berpikir bahwa mereka dapat memperdayakan Musa dan juga Allah. Ketika hukuman yang mengerikan menimpa mereka, merekapun seketika itu juga memanggil Musa dan memintanya untuk menyelamatkan mereka dari bencana tersebut:
Dan ketika ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata; " Hai Musa mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesunguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu". Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba merekapun mengingkarinya.( QS Al A'raf 134-135).

Mengungsi dari Mesir
Allah menerangkan kepda Fir'aun dan lingkaran dekatnya melalui Musa bahwa mereka seharusnya memperhatikan dan sekaligus peringatan bagi mereka. Namum jawabannya justru mereka memberontak dan menuduh Musa sebagai seorang yang kesurupan/gila dan pendusta. Allah mempersiapkan akhir yang sangat memalukan bagi mereka, Allah mengungkapkan kepada Musa apa yang akan terjadi :
Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa; " Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli. Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) kekota-kota. (Fir'aun berkata): " Sesungguhnya mereka (Bani Isril) benar-bemar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu terjaga-jaga". Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". ( QS Asy- Syu'araa 52-61).
Dalam keadaan dimana Bani Israil merasa bahwa mereka terjebak dan oang-orang Fir'aun berpikir bahwa mereka akan segera menangkap mereka, Musa berkata untuk tidak pernah kehilangan kepercayaan bahwa Allah akan menolong mereka: Musa menjawab; " sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS Asy Syu'araa 62).
Pada saat itu Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israel dengan membelah lautan. Fir'aun dan orang-orangnya tenggelam didalam air yang menutup mereka setelah bani Israil telah menyeberang dengan selamat.
Lalu Kami wahyukan kepada Musa:" Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orangyang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS Asy- Syu'araa 63-68).
Tongkat Musa bernilai mukjizat. Allah telah mengubahnya menjadi ular dalam penyampaian wahyu yang perma kepadanya, dan kemudian tongkat yang sama pula berubah menjadi ular yang menelan ular-ular jadi-jadian hasil ahli sihir Fir'aun. Dan sekarang Musa membelah lautan dengan tongkat yang sama pula, ini adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Musa.
Apakah kejadian tersebut terjadi di Pantai Mediterania di Mesir ataukah di Laut Merah.
Tidak terdapat pendapat yang sama dimana Musa membelah lautan. Didalam Al Qur'anpun tidak terdapat keterangan terperinci tentang hal itu, kita tidak bisa yakin akan ketepatan berbagai pandangan terhdap hal ini. Beberapa sumber menunjukkan pantai Mediterania di Mesir sebagai tempat dimana lautan terbelah. Di dalam Ensiklopedia Judaica dikatakan;
Pendapat kebanyakan hari ini mengidentifikasikan Laut Merah dalam pengungsian adalah sebuah laguna di tepi pantai Mediternia. . 2
David ben Gurion menyatakan bahwa kejadian tersebut kemungkinan dapat terjadi dalam masa pemerintahan Ramses II, kemungkinan setelah penaklukan Khadesh. Dalam Buku Exodus dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa kejadian ini terjadi di Migdol dan Baal-Zephon yang terletak di sebelah utara delta. 3
Pandangan ini didasarkan pada perjanjian Lama. Dalam terjemahan buku Exodus dalam Kitab perjanjian Lama dikatakan bahwa Fir'aun dan orang-orangnya ditenggelamkan dilaut Merah. Namun bagi yang berpegang pada pandangan ini, kata yang diterjemahkan sebagai " Laut Merah (Red Sea)" sebenarnya adalah " Lautan alang-alang (Reeds)". Kata ini dikenal sebagai "Laut Merah" dalam berbagai sumber dan digunakan untuk menyebutkan lokasi tersebut. Bagaimanapun juga, " Laut Reeds" sebenarnya digunakan untuk merujuk kepada Pantai mediterania Mesir. Dalam perjanjian Lama, ketika menyebutkan jalur yang diikuti oleh Musa dan para pengikutnya, kata Migdol dan Baal-Zephon disebutkan, dan tempat ini terletak di sebelah utara Delta sungai Nil ditepian pantai Mesir. Laut Reed (alang-alang) berdsarkan implikasinya mendukung kemungkinan bahwa kejadian tersebut kemungkinan pernah terjadi di tepian pantai Mesir, karena di daerah ini, berdsarkan dari dari namanya reeds (alang-alang) yang tumbuh berkat tanah lumpur delta Nil.


Tenggelamnya Fir'aun dan orang-orangnya Di Lautan.
Al Qur'an memberitaukan kepada kita tentang aspek yang paling penting dari kejadian terbelahnya Laut merah. Menurut cerita Al Qur'an, Musa pergi dari Mesir bersama dengan Bani Israel yang patuh kepadanya. Namun Fir'aun tidak bisa menerima kepergian mereka tanpa seijinnya. Ia dan tentaranya mengikuti mereka "dalam keangkaramukaan dan dendam" (Qs Yunus 90). Begitu Musa dan bani Israel telah mencapai tepian pantai, Fir'aun dan tentaranya telah menyusul mereka. Beberapa orang Bani Israel melihat keadan ini mulai mengeluh kepada Musa. Menurut Perjanjian Lama mereka berkata kepada Musa :" mengapa kamu membawa kami pergi dari negeri kami, disana kami diperbudak namun setidak-tidaknya dapat hidup, sekarang kita akan mati". Kelemahan dari masyarakat ini juga disebutkan dalam Al Qur'an dalam ayat sebagai berikut: " Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa;"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".(QS Asy Syu'araa' 62).
Kenyataan ini bukanlah yang pertama ataupun yang terakhir bahwa bani Israel menunjukkan ketidak patuhan mereka. Kaum Musa berkata; " kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di muka bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu". (QS Al A'raaf 129).
Berlawanan dengan tingkah laku umatnya yang lemah, Musa sangatlah percaya diri semenjak ia percaya kepada Allah secara mendalam. Semenjak awal perjuangannya Allah telah memberitahukannya bahwa pertolongan dan dukungan-Nya akan selalu bersama Musa: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: " Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (QS Thahaa 45-46).
Ketika Musa pertama kali bertemu dengan tukang sihir Fir'aun, ia merasa takut dalam hatinya ( QS Thaahaa 67). Allahpun memerintahkan Musa untuk tidak takut;" Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). ( QS Thaahaa 68). Dengan demikian Musa dididik oleh Allah dan memperoleh kematangan penuh dalam menghormati petunjuk-Nya. Konsekuensinya ketika beberapa orang dari kaumnya mersa takut akan tertangkap, ia berkata: "sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku (QS Asy Syu'araa' 62).
Allah menyatakan kepada Musa bahwa ia harus memukul lautan dengan tongkatnya.:" Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS Asy Syu'araa' 63). Sesungguhnya pada saat Fir'aun melihat mukjizat tersebut, seharusnya ia menyadari bahwa hal yang sangat luar biasa terjadi. Dan ia sedang melihat campur tangan Sang maha Suci. Lautan terbuka bagi orang-orang yang ingin dihancurkan Fir'aun. Meskipun tidak ada jaminan bahwa lautan tidak akan menutup kembali setelah mereka menyebrang, namun ia dan bala tantaranya tetap menyusul bani Israil ke dalam lautan. Kemungkinan besar Fir'aun dan tentaranya telah kehilangan kemampuannya untuk berpikir sehat dikarenakan keangkaramurkaan dan kedengkian mereka, dan tidak bisa memahami mukjizat alam dari keadaan tersebut.
Al Qur'an menyebutkan saat-saat terakhir Fir'aun sebagai berikut:
Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;" Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". ( QS Yunus 90).
Kita dapat melihat mikjizat lain nabi Musa, dalam ayat berikut ;
Musa berkata;" Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, - ya Tuhan kami- akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta mereka dan kunci matilah ahti mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih". Allah berfirman;" Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui". . ( QS Yunus 88-89).

Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami.
( QS Yunus 91-92).

Sangatlah jelas untuk dipahami dari ayat ini bahwa Musa diberitahu atas pertanyaan, bahwa Fir'aun akan percaya kepada Allah pada saat ia menghadapi hukuman yang menyakitkan. Fir'aun benar-benar berkata bahwa ia percaya kepada Allah ketika air mulai menenggelamkannya. Sangatlah jelas bahwa tindakan Fir'aun merupakan tindakan yang tidak jujur dan bohong. Fir'aun mungkin mengatakan ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian akibat tenggelam.
Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami. ( QS Yunus 91-92).
Kita juga diberitahu bahwa orang-orang Fir'aun sebagaimana Fir'aun sendiri juga menerima bagian hukuman mereka. Dikatakan bahwa bala tentara Fir'aun adalah orang-orang yang angkara murka dan penuh kebencian ( QS Yunus 91), "orang-orang yang berdosa" (QS Qashas 8), "berlaku salah" (QS Qasas 40) dan "mengira bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Allah" (QS Qasas 39) dan sepeti halnya Fir'aun merekapun patut menerima hukuman dari Allah. Maka Allahpun melemparkan Fir'aun dan bala tentaranya ke dalam laut (QS Qashas 40).
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka dilaut disebabakan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. (QS Al A'raaf 136).
Allah menyebutkan dalam Al Qur'an semua yang terjadi setelah kematian Fir'aun :
Dan Kami pusakakan kepada kaum yang ditindas itu, negeri-negeri bahagian Timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka, dan Kami hancurkan apa yang telah diperbuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun oleh mereka (QS Al A'raaf 137).



KAUM TSAMUD

Kaum Tsamud pun telah mendustakanancaman-ancaman itu. Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) diantara kita?. Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila". Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya diantara kita ?. Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (QS Al-Qamar: 23-26)
Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an, kaum Tsamud menolak peringatan-peringatan dari Allah sebagaimana dilakukan kaum 'Ad dan sebagai konsekuensinya merekapun dihancurkan. Berdasarkan hasil studi arkeologi dan sejarah terkini banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui telah diketemukan, semisal lokasi dimana kaum Tsamud hidup. Perumahan yang mereka buat dan gaya hidup mereka. Tsamud seperti disebutkan dalam Al Qur'an merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh banyak temuan arkeologis saat ini.
Sebelum lebih jauh melihat temuan arkeologis yang berkaitan dengan kaum Tsamud, sangatlah bermanfaat untuk mempelajari cerita di dalam Al Qur'an serta perjuangan dari kaum ini dengan nabi mereka. Sebagaiman bahwa Al Qur'an adalah kitab yang diperuntukkan untuk sepanjang massa, pengingkaran kaum Tsamud dari peringatan-peringatan yang datang kepada mereka adalah sebuah peristiwa yang memberikan sebuah peringaan kepada semua orang disepanjang massa.

Penyampaian Pesan Nabi Shalih
Di dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Nabi Shalih diutus untuk memperingatkan kaum Tsamud. Shalih dikenal dikalangan masyarakat Tsamud. Kaumnya yang tidak mengharapkan ia akan mengumumkan agama yang benar merasa terkejut atas seruannya untuk meninggalkan penyimpangan-penyimpangan mereka. Reaksi pertama adalah menghujat dan mengutuknya ;
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata;"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amatlah dekat (Rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). Kaum Tsamud berkata ;"Hai shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami/ dan sesungguhnya kamu betul-betul berada dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. (QS Hud 61-62).
Sebagian kecil dari kaum Tsamud memenuhi panggilan Nabi Shalih, namun sebagian besar dari mereka tidak menerima apa yang dikatakannya. Penolakan ini terutama dari para pemimpin kaum tersebut dan mereka menempatkan Shalih sebagai musuh terhadap mereka. Mereka mencoba untuk menghalang-halangi dan menekan kaum yang beriman kepada nabi Shalih. Mereka sangat murka terhadap Shalih karena ia menyerukan kepada mereka untuk menyembah Allah. Kemurkaan ini tidak hanya khusus dilakukan kaum Tsamud. Tsamud mengulang kembali kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum Nuh dan 'Ad yang telah hidup sebelum mereka. Inilah sebabnya berkenaan dengan ketiga kaum tersebut Al Qur'an menyebutkan ;
Belumkah sampai kepadamu berita-berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) Kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang kepada mereka rasul-rasul (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya kemulutnya (karena kebencian) dan berkata; "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya". (QS. Ibrahim: 9).
Tanpa mengindahkan peringatan -peringatan Nabi Shalih, orang-orang membiarkan kesangsian menguasai mereka. Namun masih ada sekelompok kecil yang percaya terhadap kenabian shalih dan merekalah orang-orang yang diselamatkan bersama dengan Shalih ketika bencana besar datang. Pemimpin masyarakat tersebut berupaya untuk menekan kelompok yang mempercayai Shalih ;
Pemuka-prmuka yang menyombongkan diri diantara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka; " tahukah kamu bahwa Shalih di utus ( menjadi rasul) oleh Tuhannya?". Mereka menjawab; " Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shalih diutus untuk menyampaikannya". Orang-orang yang menyombongkan diri berkata;" sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu". (QS. Al-A'raf: 75-76).
Kaum Tsamud melanjutkan kesangsian untuk menghormati Allah dan kenabian shalih, lebih jauh sekelompok orang tertentu secara terang-terangan menyangkalnya. Sekelompok orang diantara yang menolak keimanan -menurut dugaan, dengan Nama Allah - merencanakan untuk membunuh Shalih :
Mereka menjawab; " Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang bersama kamu". Shalih berkata ; "Nasibmu ada pada sisi Allah ( bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu yang diuji". Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata; "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba bersama keluarganya dimalam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar". Dan merekapun merencanakan makar dengan sesungguh-sungguhnya dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (QS. An-Naml: 47-50).
Untuk mengetahui apakah kaumnya akan memamtuhi perintah Allah atau tidak, Shalih menunjukkan kepada mereka seekor unta betina sebagai ujian untuk mengetahui apakah mereka akan mematuhinya atau tidak. Salih berkata kepada kaumnya untuk berbagi air mereka dengan unta betina tersebut dan tidak menyakitinya. Kaumnya menjawab dengan membunuh unta betina tersebut. Dalam surat Ash-Shuara kejadian tersebut disebutkan sebagai berikut:
Kaum Thamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Shalih, berkata kepada mereka: " Mengapa kamu tidak bertaqwa?. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwakah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepdamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkkan tinggal di sini (di negeri ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma yang manyangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan". Mereka berkata ;" Sesungguhnya kamu adalah seorang dari orang-orang yang terkena sihir; Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mu'jizat jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar". Shaleh menjawab;" Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran yntuik mendapatkan air dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari tertentu. Dan jangalah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar. Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menyesal, maka mereka ditimpakan azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (QS Asy Syu'araa' 141-158).
Perjuangan Nabi Shalih terhadap kaummnya dikisahkan sebagai berikut:
Kaum Thamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). Maka mererka berkata; "Bagaimana kita akan mengikuti saja, seorang manusia (biasa) diantara kita ?. Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepdanya di antara kita ?. Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. " kelak mereka akan mengetahui siapakah sebenarnya yang amat pendusta lagi sombong. Sesungguhnya Lami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tia-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya gilirannya). Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawanya menangkap (unta itu0 dan membunuhnya. (QS Al Qamar 23-29).
Kenyataan bahwa mereka tidak dilaknat pada saat itu juga, semakin meningkatkan keangkaramurkaan kaum ini. Mereka menyerang Salih dengan mengatakannya sebagai seorang pendusta :
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata ;" Wahai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).(QS. Al-A'raf: 77)
Allah membuat rencana dan tipu daya terhadap mereka atas ketidakpercayaan mereka, dan Dia menyelamatkan Shalih dari tangan-tangan yang ingin melakukan perbutan keji terhadapnya. Setelah kejadian itu, Shalih yang telah menyampaikan berbagai pesan terhdap kaumnya dengan berbagai jalan dan tetap tak ada seorangpun yang memperhatikannya sebagai pelajaran, Shalih berkata kepada kaumnya bahwa mereka akan dihancurkan dalam waktu tiga hari :
Mereka membunuh unta itu, maka berkatalah Shalih ;" Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan'. ( QS Hud 65).
Cukup sudah, dalam 3 hari kemudian ancaman Shalih menjadi kenyataan dan kaum Tsamud dihancurkan ;
Dan satu suara yang keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam ditempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Thamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Thamud.( QS Hud 67-68)

Dari Al Qur�an diketahui bahwa kaum Tsamud adalah anak cucu dari kaum �Ad. Bersesuaian dengan ini, temuan-temuan arkeologis memperlihatkan bahwa akar dari kaum Tsamud yang hidup di utara Semenanjung Arabia, berasal dari Selatan Arabia di mana kaum �Ad pernah hidup.

Temuan Arkeologis dari kaum Tsamud.
Terhadap berbagai kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an, Tsamud adalah kaum yang saat ini telah banyak diketahui keberadaannya. Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang disebut dengan Tsamud benar-benar pernah ada.
Masyarakat al Hijr sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Jadi kata "Tsamud" adalah merupakan nama dari suatu kaum, sementara kata al Hijr adalah salahsatu diantara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut.1
Menurut Penggambaran dari Pliny (ahli Geografi Yunani) membenarkan hal ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah letak dimana kaum Thamud berada dan hal inilah yang belakangan menjadi kota Al Hijr yang dikenal saat ini .
Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad 8 SM) yang mengalahkan orang-orag ini dalam pertempuran di Arabia Selaan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai "Tamudaei"., yakni, "Tsamud" dalam tulisan Aristoteles, Ptolomeus dan Pliny . 2 Sebelum Nabi Muhammad SAW, diperkirakan antara 400-600 M , mereka punah secara total.
Dalam Al Qur'an kaum 'Ad dan Tsamud selalu disebutkan secara bersama, lebih jauh ayat-ayat menasehatkan bahwa kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum 'Ad.
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata;"Hai kaumku, sembahlah allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah dating bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlak kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.
Dan ingatlah olehmu di waktui Tuhan menjadi menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.QS Al A'raf 73-74)
Sebagimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat sebuah hubungan antara kaum 'Ad dan Thamud, kaum 'Ad mungkin pernah menjadi bagian dari sejarah Thamud. Nabi Shalih merintahkan untuk mengambil peringatan dari kejadian mereka.
Kaum 'Ad ditunjukkan kepada contoh dari kaum Nabi Nuh yang pernah hidup sebelum mereka. Sebagaimana kaum 'Ad mempunyai kaitan penting dengan sejarah kaum Thamud, kaum nabi Nuh juga mempunyai kaitan penting untuk sejarah laum 'Ad. Kaum-kaum ini saling mengetahui satu sama lain dan kemungkinan berasal dari satu garis keturunan yang sama. Dari sini dapat dibuat sebuah urut-urutan terhadap kejadian yang diceritakan dalam al Qur'an. Ketika kita menerima bahwa kaum Thamud mencul paling dulu di abad 8 SM, maka sebuah kronolog dapatlah ditarik berkaitan dengan hal ini. Yang terlebih dahulu dihancurkan setelah kaum Nuh adalah penghancuran kaum Lut, kemudian dalam masa Nabi Musa terjadi penenggelaman ( kemungkinan bear ia adalah Rhamses II) dan tentaranya di laut Merah. Berikutnya adalah dikirimkannya angin badai yang menghancurkan kaum 'Ad dan terakhir adalah penghancuran dari kaum Thamud. Hukuman terhadap kaum Nabi Nuh adalah yang pertamakalinya terjadi. Bila urut-urutan ini dapat dipertimbangkan, maka tabelnya adalah sebagai berikut : Nuh 3000 - 2500 SM Ibrahim dan Luth Awal 2000 SM Musa 1300 SM Hud dan 'Ad 1300 - ? SM Shalih dan Thamud 800 - ? SM
( Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) ) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS Al A'raf 74)
Tentu saja urut-urutan ini tidak bisa dikatakan sangat tepat, namun hal ini menghasilkan sebuah rangkaian yang runut, baik menurut penggambaran dalam Al Qur'an dan data-data sejarah.
Kita telah menyebutkan bahwa Al Qur'an menceritakan tentang adanya sebuah hubungan antara kaum 'Ad dan Thamud yang diingatkan untuk mengingat kejadian kaum 'Ad serta mengambil pelajaran dari penghancuran mereka. Meskipun letak antara kaum 'Ad dan Thamud secara geografis sangatlah berjauhan satu sama lain dan sepertinya tidak nampak adanya hubungan antara dua kaum ini, namun dikatakan di dalam ayat yang ditujukan kepada kaum Thamud untuk mengingat kaum 'Ad?.
Jawabannya mengungkapkan sendiri hal itu, setelah melalui sebuah penyelidikan singkat dari sumber-sumber bahwa terdapat sebuah hubungan yang sangat kuat antara kaum Thamud dan 'Ad. Tsamud mengenal kaum 'Ad karena dua kaum ini sepertinya berasal dari satu asal usul yang sama. Britannica Micropedia menulis tentang orang-orang ini dalam sebuah tulisan berjudul "Thamud" ;
Di Arabia Kuno, suku atau sekelompok suku yang tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Thamud kemungkinan asal-usulnya dari Arabia selatan, sebuah kelompok besar rupanya pindah ke Utara pada awal-awal tahun, secara tradisional berdiam di lereng gunung ( jabal) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan sejumlah besar batu bertulis dan gambar-gambar kaum Tsamud tidak hanya ada di Jabal Athlab , tetapi juga di seluruh Arabia tengah .3
Duaribu tahun yang lampau, kaum Thamud telah mendirikan sebuah kerjaan bersama bangsa arab yang lian yaitu Nabataeans. Saat ini di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Jordania dapat dilihat bahwa berbagai contoh karya pahat batu yang terbaik dari kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an yang menyebutkan bagaimana kemahiran/keunggulan kaum Thamud dalam pertukangan.

Tulisan yang secara grafis mirip dengan huruf-huruf Smaitic ( yang disebut Thamudic) telah diketemukan di Arabia Selatan sampai ke Hidjaz.4 Tulisan yang pertama ditemukan di daerah Utara Yaman Tengah yang dikenal sebagai Thamud, ini dibawa ke Utara oleh Rub'ah Khalike selatan dan Hadhramaut serta ke Barat oleh Shabwah.
Sebelumnya kita telah melihat bahwa kaum 'Ad adalah sekelompok orang yang hidup di Arabia Selatan. Adalah merupakan hal yang sangat signifikan bahwa banyak peninggalan kaum Thamud ditemukan pada daerah dimana kaum 'Ad pernah hidup, khususnya daerah di sekitar Hadhramaut, tempat anak cucu 'Ad mendirikan ibukotanya. Keadaan ini menunjukkan bahwa hubungan kaum 'Ad dan Thamud dicatat dalam Al Qur'an. Hubungan tersebut diterangkan dalam perkatan Nabi Shalih ketika mengatakan bahwa Thamud datang untuk menmggantikan 'Ad :
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Thamud saudara mereka Shalih. Ia berkata;"Hai kaumku, sembahlah allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah dating bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlak kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.
Dan ingatlah olehmu di waktui Tuhan menjadi menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.QS Al A'raf 73-74)

Secara singkat, kaum Thamud telah membayar atas pembangkangan terhadap nabi Mereka dan merekapun dihancurkan. Bangunan-bangunan yang telah mereka bangun dan karya seni yang telah mereka buat tidak bisa melindungi mereka dari azab. Thamud yang dihancurkan dengan azab yang mengerikan seperti halnya umat-umat lainnya baik sebelum atau sesudah mereka yang mengangkari kebenaran. ( Nothing new under the Sun, begitulah kata para ahli sejarah, di dunia ini sebenarnya tidak ada yang baru sebenarnya hanyalah pengulangan-pengulangan dari masa lalu, tinggal kita bisa mengambil pelajaran darinya atau dengan bodohnya melupakan kesemua itu .









Jumat, 25 Desember 2009

PROBLEMATIKA ISLAM

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan beramal sholeh seraya berkata: ‘sesngguhnya aku seorang muslim.” ( QS Al Fushilat : 33 )

Sesungguhnya Islam itu adalah agama samawi terakhir, ia berfungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Maka Allah SWT mewahyukan agama ini dalam nilai kesempurnaan yang tertinggi, kesempurnaan mana meliputi segi-segi fundaentil tentang duniawi dan ukhrawi, guna menghantarkan manusia kepada kebahagiaan lahir dan batin serta dunia dan akhirat. Sebab itu agama Islam bersifat universal dan eternal lagi sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntunan hati nurani manusia seluruhnya sebagai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia dalam menghadapi dan menerima agama Tuhan (Islam) yang hak.

Maka konsekwensinya, Islam menjadi agama dakwah, yakni agama yang harus disampaikan kepada seluruh manusia, yang telah ditegaskan pula dengan teks-teks yang jelas (nash-nash yang sharieh) dalam sumber ajarannya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Ajaran-ajaran Islam perlu diterapkan dalam segala bidang hidup dan kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang hakiki di dunia dan di akhirat, menjadikan Islam sebagai nikmat dan kebanggaan manusia. Seperti yang telah dicontohkan dalam penyebaran Islam pertama, zaman Rasulullah saw di abad 7 M, keudian di zaman pengganti-pengganti beliau dari Khulafaur Rasyidien, menyusul di zaman keemasan Islam. Sejarah membuktikan bahwa kedatangan Islam di zaman itu benar-benar menjadi juru selamat dan kebanggaan yang tiada taranya, manusia menikmati Islam sebagai karunia dan rahmat Ilahi.

Namun demikian, kita yang hidup dalam abad ini tidak boleh terpesona saja dan dinina-bobokkan oleh zaman keemasan Islam di masa lampau. Kita sendiri harus bangkit memikul tugas dan tanggung jawab, yaitu dakwah Islamiah, dimana sudah barang tentu harus dimulai dengan pemahaman Islam dengan sebaik-baiknya, kemudian pengenalan terhadap problematika Islam guna memberikan kemampuan dakwah Islamiah itu untuk menjawab tantangan dunia modern kini. Untuk suksesnya risalah suci itu dalam kondisi dunia modern tentu harus di topang oleh ilmu pengetahuan seperti telah pula diletakkan dasar-dasarnya oleh firman-firman Allah dan sabda-sabda Nabi saw. Karena itu dasar-dasar ajaran Islam ( keimanan, ‘ubudiyah, dan mu’amalah ) bukanlah merupakan ajaran dogmatik yang mati, tapi dapat didukung dan dianalisa dengan ilmu.

Dalam tugas memahamkan hakekat ajaran Islam, sebenarnya termasuk pula keharusan kita mengenal kondisi-kondisi objektif umat Islam untuk mendapatkan jawaban dan pemecahan yang tepat. Maka apabila kita membuka peta bumi posisi umat Islam sekarang ini, kita akan menyaksikan tantangan-tantangan berat terhadap umat Islam, baik dari dalam maupun dari luar. Keadaan itu bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di mana-mana di negara-negara Islam. Dari dalam, ialah keterbelakangan umat Islam dalam bidang ilmu dan teknologi. Hal mana berekor dengan keawaman dan kemiskinan umat Islam. Disamping itu, sikap kaum tradisionil kita yang tetap apriori terhadap kenyataan dunia modern. Masih banyak dikalangan umat ini yang belum menerapkan secara sempurna kewajiban-kewajiban pokoknya, seperti sholat, puasa bulan ramadhan, zakat, dan lain-lain. Tapi sementara yang telah aktif menunaikan kewajiban-kewajibannya, dalam bidang akidah masih tercampur dengan khurafat dan dalam bidang ‘ubudiyah tercampur dengan bid’ah.

Adapun tantangan-tantangan dari luar, ialah pengaruh-pengaruh Barat, baik dalam sektor kebudayaan maupun dari segi keagamaan. Dari masalah ini, umat Islam berhadapan dengan persoalan modernisasi. Bagaimana sikap umat Islam menghadapi modernisasi ?
Sementara itu dikalangan Islam ada kesan, seolah-olah modernisasi diidentikkan dengan westernisasi ( pembaratan ). Seperti yang telah terjadi di Turki di bawah pimpinan Kemal Attaturk dalam proses modernisasinya, telah menerima tehnik-tehnik Barat, hukum-hukum Barat secara komplit. Sedemikian jauh, Turki telah tercelup Barat. Sampai kepada upacara keagamaan dan ibadah. Ucapan-ucapan sholat dan teks adzan telah diterjemahkan semua ke dalam bahasa Turki. Akibatnya dunia Islam lainnya menilai mereka telah meninggalkan Islam dalam gerakan modernisasinya. Tapi sebaliknya, mereka berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata-mata memberikan interpretasi yang revolusioner tentang Islam. Sementara itu, dunia Islam lainnya tetap bertahan menegakkan ajaran-ajaran Islam yang murni, disamping berusaha melaksanakan ide modernisasi dengan tidak perlu menerima segala sesuatu yang ditawarkan oleh Barat. Tegak di atas prinsip : tetap mengamalkan Islam dalam usaha mencari modernitas.

Masalah pokok bagi kita, apakah Islam itu harus disesuaikan dengan zaman, atau Islamlah yang harus memimpin pertumbuhan dan perkembangan zaman. Sesungguhnya risalah Islam bukan gerbong-gerbong yang harus ditarik-tarik kemana-mana, tetapi ia adalah lokomotip yang bertenaga besar menarik berpuluh-puluh gerbong meluncur di atas suatu rel yang pasti. Umat Islam dalam kancah kehidupan bukanlah ma’mum tapi imam, umat pilihan dan pemimpin bagi manusia. Fungsi yang mulia ini, ditetapkan dalam firman Allah SWT dalam surah Al Imran : 110, “Kamu adalah umat yang paling baik, yang ditempatkan di tengah-tengah manusia, untuk memimpin kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan percaya penuh kepada Allah.”

Yang bersegi keagamaan, tantangan itu datangnya dari agama- agama Nasrani. Ia merupakan gerakan zendhing dan missi diorganisir secara internasional. Padanya, ada dua kekuatan besar, yaitu organisasi yang teratur rapi dan capital raksasa yang mampu membiayai gerakan-gerakan zendhing dan missinya. Ini adalah kenyataan yang merupakan salah satu arus zaman ini. Di sebelah itu, gerakan dakwah Islam hanya ditopang oleh organisasi dan kapital yang relatif lemah sebagai akibat dari penjajahan masa lampau dimana umat Islamlah yang secara langsung merasakannya sebagai rakyat Indonesia. Sudah barang tentu dalam kompetisi antara zendhing/missi dan dakwah, maka gerakan dakwah mengalami kesulitan-kesulitan berat. Tapi bagaimanapun dalam kompetisi ini, umat Islam mengharapkan suatu kompetisi yang sehat, jujur dan dalam batas-batas kode etik

Itulah masalah-masalah raksasa yang sedang di hadapi umat Islam dalam abad ke-21 ini. Belum pernah dunia Islam dihadapkan pada persoalan-persoalan yang demikian ruwetnya. Iman kita sendiri mengharuskan kita selalu berpandangan optimis dan teleskopis, sambil bekerja dan beramal sampai terwujudnya ajaran-ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan manusia dan terbentuknya system kebudayaan Islam yang memimpin.

Dalam usaha menjadikan Islam sebagai nikmat manusia, dan usaha menjawab tantangan zaman,serta usaha membangun kembali umat Islam menjadi lokomotip sejarah, perlu adanya usaha yang terus melakukan penggalian mutiara dan khazanah ajaran-ajaran fundamental Islam. Maksudnya diperlukan terus studi yang mendalam dan penafsiran kembali Dienul Islam dan masalahnya, sehingga benar-benar dapat diyakini dalam totalitasnya sebagai suatu aqidah, syari’ah dan way of life ( cara hidup ). Perlu diungkapkan tentang dasar-dasar pengertian Islam dan sejarahnya, nilai-nilai fundaentil dari ajaran-ajaran Islam, konsep-konsep dasar Islam tentang manusia, apa arti dan nilai iman dan ibadah bagi manusia, dan betapa pula bila Islam ditinjau dari segi hukum.

Dengan usaha menghidupkan terus api Islam dengan menggunakan informasi ilmu, maka setidak-tidaknya misunderstanding dapat dihilangkan pada sementara orang-orang yang sikap itu menjadi latar belakang munculnya kaum Islamophobi ( takut pada Islam ). Sikap misunderstanding terhadap Islam biasanya disebabkan adanya hal khusus yang ia tentang, padahal apa yang ditentangnya itu sama sekali bukan ajaran Islam, bahkan ditentang juga oleh Islam. Maka dengan informasi ilmu, Insya Allah manusia akan lebih cinta terhadap Dienul Islam. Seperti filosuf Inggris George Bernard Shaw berkata : “Saya selalu menaruh penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap agama Muhammad, oleh karena vitalitet hidupnya yang mengagumkan.” Dalam tulisan tulisan lain dia berkata : “Saya seperti Napoleon, lebih menyukai Islam. Saya yakin seluruh kerajaan Inggris akan menganut Islam modern, sebelum akhir abad ini. Pribadi Muhamad sangat sesuai dengan fikiranku. Saya memujanya dan mengambil pandangan-pandangan hidupnya dalam jumlah yang besar.”

Pada uraian tentang inflasinya peradaban Barat dan China, historikus Arnold Toynbee, dengan penuh kejujuran berkata : “Sekarang pengharapan kita untuk menolong peradaban dunia hanya tinggal terhadap Islam yang memang masih sehat dan kuat, belum pernah melumuri kebenarannya dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dibawanya sebagai modalnya menolong seluruh dunia kemanusiaan.”

Sungguh benar wahyu Tuhan yang disampaikan melalui Nabi-Nya, tentang bagaimana hendaknya sikap umat Islam dalam menghadapi setiap situasi dalam kancah kehidupan manusia. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” ( QS Ali Imran : 139 )

Dan Tuhan memperingatkan pula dengan firmannya : “Katakanlah! Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu hendaklah kamu bangkit menghadap kepada Allah, baik secara berdua-dua, maupun hanya dengan seorang diri sebatang kara, kemudian berpikirlah!” ( QS Saba : 46 )

Silahkan mengcopy artikel ini dengan syarat mencantumkan link ke blog ini : http://www.andryhisyam.co.cc/