Kamis, 19 November 2009

GENERASI - GENERASI MASA LAMPAU

" Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri."(QS. At-Taubah: 70)

Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-Nya, telah dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia, Beberapa masyarkat/kaum telah menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah(nabi).

Namun sebagian besar dari masyarakat yang telah didatangi risalah suci tersebut tidak bersedia menerimanya. Mereka tidak hanya mengabaikan pesan suci yang disampaikan oleh sang pembawa pesan, namun juga berusaha untuk melakkan perbuatan keji terhadap para pembawa pesan dan para pengikutnya. Para pembawa pesan suci tersebut biasanya dituduh serta difitnah sebagai "pembohong, sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan kesombongan" dan menjadi pemimpin dari banyak orang yang harus mereka cari-cari untuk dibunuh.

Semua hal yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah kepatuhan mereka kepada Allah. Mereka tidak meminta uang ataupun berbagai keuntungan dunia lainnya sebagai balasan. Dan juga mereka tidak berusaha memaksa kaum mereka. Yang mereka inginkan hayalah mengajak kaum mereka kepada agama yang haq dan bahwa mereka seharusnya memulai sebuah jalan hidup yang berbeda bersama dengan para pengikutnya terpisah dari masyarkat.

Apa yang telah terjadi antara Syu'aib dan kaum Madyan dimana dia diutus, menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang disebutkan dimuka. Reaksi dari suku Syu'aib terhadap Syu'aib, yang menyerukan kepada mereka untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan ketidakadian yang telah mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir sangatlah menarik :

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib, Ia berkata: "Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain Dia. Dan jaganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."

Dan Syu'aib berkata: "hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah seorang yang sangat penyantun lagi berakal.

Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.

Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakana itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa disisi kami.

Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan".

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatalah menurut kemampuanmu, sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu."

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud yang telah binasa.(QS Huud 84-95).

Dengan memikirkan "batu /prasasti Syu'aib" yang tidak lain kecuali menerukan mereka kepada kebaikan, kaum Mdyan dihukum dengan kutukan dari Allah dan merekapun telah dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas. Masyarakat Madyan bukanlah satu-satunya contoh. Sebaliknya sebagaimana Syu'aib sedang berbicara kepada kaumnya, banyak masyarakat yang telah ada lebih dahulu sebelum masyarakat Madyan yang telah dibinasakan. Setelah Madyan, banyak masyarakat lain yang juga dihancurkan oleh kemurkaan Allah.

Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan menyebutkan masyarakat-masyarakat yang telah disebutkan diatas yang telah dibinasakan dan sisa-sisa peninggalan mereka. Di dalam Al Qur'an, masyarakat-masyarakat ini disebutkan secara mendetail dan orang-orang diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran serta peringatan tentang bagaimana kaum-kaum ini berakhir.

Pada titik ini, Al Qur'an secara khusus menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut memiliki tingkat peradaban yang tinggi. . Di dalam Al Qur'an, sifat-sifat dari kaum-kaum yang dihancurkan ditekankan sebagai berikut:

Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?.(QS Qaf 36).

Dalam ayat tersebut, dua sifat dari kaum yang telah dihancurkan secara khusus ditekankan. Yang pertama adalah mereka merasa "lebih besar kekuatannya". Hal ini berarti bahwa masyarakat-masyarakat yang telah dibinasakan tersebut telah berada dalam suatu tingkat kedisiplinan dan system birokrasi militer yang tangguh dan merenggut kekuatan diwilayah mereka berada memalui dengan cara paksaan kekuatan. Point kedua adalah masyarakt-masyarakat yang telah disebutkan dimuka mendirikan kota-kota besar yang dihiasai dengan karya-karya arsitektur mereka.

Hal ini patut untuk diperhatikan bahwa dari kedua macam sifat-sifat ini termasuk yang dimiliki oleh peradaban yang ada dijaman kita sekarang ini, yang telah membentuk sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dan telah mendirikan negara-negara yang tersentralisir, kota-kota besar, namun mereka masih tetap mengingkari dan mengabaikan Allah, melupakan bahwa semua hal tersebut memungkinkan untuk dibuat kaena Kekuasan Allah saja. Namun, sebagaimana dikatakan di dalam ayat, peradaban mereka yang telah berkembang tidak bisa menyelamatkan masyarakat yang telah dihancurkan tersebut, dikarenakan peradaban mereka berdiri diatas landasan pengingkaran terhadap Allah. Akhir dari peradaban saat inipun tidak akan berbeda selama peradaban sekarang ini berdasarkan kepada pengingkaran dan berperilaku jahat di dunia.

Sejumlah peristiwa penghancuran, beberapa diantaraya yang diceritakan dalam Al Qur'an, telah dibenarkan oleh berbagai penelitian arkeologis yang dilakukan di jaman modern, Temuan-temuan ini yang secara jelas membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa yang dikutip dalam Al Qur'an benar-benar pernah terjadi, menjelaskan perlunya untuk menjadi "peringatan terlebih dahulu" yang banyak digambarkan dalam kisah-kisah Al Qur'an. Allah berfirman di dalam Al Qur'an bahwa penting untuk "bepergian di muka bumi" dan "melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka".

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya.

Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harrapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).

Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintah-perintah-Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak berdayanya umat manusia dhadapan Allah. Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan mempelajari contoh-contoh dalam susunan yang urut berdasarkan kronologi kejadiannya.

Situs ini didasarkan pada karya-karya HARUN YAHYA.

Jumat, 26 Desember 2008

R i y a '

Maka siapa yang benar-benar mengharap bertemu pada Tuhannya,maka hendaklah berbuat amal yang baik,dan tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun.
Sesungguhnya serendah-rendahnya riya' itu termasuk syirik,dan hamba yang dikasihi Allah ialah mereka yang bertakwa yang tersembuyi(yakni yang bersungguh-sungguh menyembunyikan ibadah mereka,dan membersihkannya dari tujuan dunia yang fana dan bersih dari akhlak yang rendah),ialah mereka yang bila tidak hadir tidak dicari,dan bila hadir tidak dikenal(dihirau orang),merekalah pimpinan agama yang benar-benar,dan merekalah pelita dalam berbagai kegelapan.
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga atas tiap orang yang beramal dengan riya'(untuk dilihat atau dipuji orang).
Bau surga itu bisa tercium dari jarak lima ratus tahun perjalanan,tetapi tidak akan merasakan baunya,orang yang mencari dunia dengan amal akherat(jika amal untuk akherat digunakan untuk mencapai kekayaan atau kedudukan dunia).
Sesungguhnya di dalam jahanam ada jurang,yang mana jahanam itu sendiri selalu berlindung kepada Allah daripada jurang itu tiap harinya empat ratus kali,dan jurang itu disediakan untuk orang-orang yang riya' dari umat Muhammad saw,yaitu orang yang membawa kitab Allah tidak karena Allah,orang yang sedekah tidak karena Allah,atau orang yang haji tidak karena Allah,atau orang yang keluar jihad tidak karena Allah.
Siapa yang menyempurnakan sholatnya ketika dilihat orang,dan menguranginya di waktu sendirian,maka itu berarti penghinaan terhadap Tuhannya.
Ada kalanya seorang yang puasa itu tidak mendapat apa-apa dari puasanya itu kecuali merasa lapar,dan ada kalanya orang yang bangun malam tidak mendapat pahala apa-apa dari bangunnya itu kecuali tidak tidur.
Awaslah kamu jangan mencampuradukkan antara taat pada Allah dengan keinginan dipuji orang,niscaya gugur amalmu.
Pada hari kiamat kelak akan diperintahkan beberapa orang untuk dibawa ke surga.Kemudian setelah dekat surga dan dapat merasakan bau harumnya,dan dapat melihat gedung-gedungnya serta segala persiapan yang ada didalamnya,tiba-tiba ada seruan : Halaukan dari surga,sebab mereka tidak ada hak di dalamnya.Maka kembalilah orang-orang itu dengan kemenyesalan yang tidak pernah terjadi pada orang-orang dahulu dan orang-orang yang terakhir,sambil mereka berkata : Ya Tuhan kami,andaikan Tuhan memasukkan kami ke neraka sebelum memperlihatkan surga dan pahala yang tersedia untuk para waliMu,pasti akan lebih ringan bagi kami. Jawaban Tuhan : Wahai orang-orang yang celaka,kamu dahulu jika sendirian melawan Aku dengan semua dosa-dosa besar,dan jika kamu bertemu dengan sesama manusia,kamu berpura-pura(berlagak) khusuk taat,hanya ingin pujian orang dalam semua amal perbuatanmu,berbeda hatimu terhadapKu.Kamu lebih takut pada manusia dan tidak takut padaKu,dan mengagungkan manusia,dan mengabaikan Aku,dan meninggalkan segala sesuatu karena orang dan tidak karenaKu.Maka hari ini Aku marasakan padamu siksaKu,disamping Aku mengharamkan atas kamu dari pahala-pahala.
Karena itu berhati-hatilah kamu dari riya',sebab riya' itu berarti syirik terhadap Allah.Dan orang yang riya' itu kelak pada hari kiamat akan dipanggil dimuka umum dengan empat nama : hai kafir,hai orang yang durhaka,hai orang yang lancung,hai orang yang rugi,sia-sia amalmu dan batal(hilang) pahalamu,maka tidak ada untukmu pada hari ini,mintalah pahalamu dari orang yang dahulu kamu beramal untuknya wahai penipu.
Riya' yang tercela itu ialah jika yang beramal itu benar-benar niat(bermaksud) dalam ibadah itu dilihat dan dipuji orang,untuk mencapai kedudukan atau harta atau nama.
Orang yang mukhlis(ikhlas) ialah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan kejahatannya.
Bahwasanya siapa yang tulus ikhlas dalam amal perbuatannya,meskipun tidak niat,akan terbukti berkat baginya dan keturunannya hingga hari kiamat.
"Ya Allah,saya berlindung kepadaMu jangan sampai terkena syirik dalam apa yang aku ketahui,dan saya minta ampun padaMu dari pada apa yang tidak aku ketahui" Amin
http://niandha.wordpress.com

M a r a h

Awaslah kamu dari saling membenci,karena benci membenci itu dapat memutuskan hubungan agama.
Sesungguhnya marah suatu alat patri (stempel) dari neraka jahanam,Allah meletakkannya dalam hati perasaan seseorang.Tidakkah anda melihat seorang jika marah,merah mukanya,muram wajahnya,tegang urat-uratnya.
Di neraka ada pintu yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang memuaskan marahnya,dalam suatu hal yang memurkakan Allah.
Siapa yang dapat menahan marah karena Allah,maka Allah akan menghindarkan dari siksaNya.
Sesungguhnnya marah itu dari syaithan,dan syaithan itu dijadikan dari api,dan yang dapat memadamkan api itu hanyalah air,maka apabila seseorang dalam keadaan marah,hendaklah segera berwudhu.
Siapa yang dapat menahan marahnya,padahal ia kuasa untuk melampiaskan marahnya itu,maka Allah akan memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan.
Allah tidak pernah memulyakan seseorang karena kebodohannya,juga Allah tidak pernah menghina seseorang karena kesabarannya,demikian pula tidak akan berkurang harta karena disedekahkan.

Selasa, 16 Desember 2008

R i b a

"Orang-orang yang makan riba itu tidak dapat berdiri tegak, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan sehingga bagaikan orang gila. Yang demikian itu karena mereka berpendapat : Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka siapa yang setelah mendengar larangan Tuhan ini lalu berhenti, maka untuknyalah apa yang telah tejadi dahulu itu, dan urusannya terserah pada Allah, dan siapa yang mengulangi lagi makan riba, maka mereka ahli neraka, dan mereka di dalam nereka akan kekal. (Al Baqoroh 75) Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang yang mengetahui, lebih berat disisi Allah daripada dosanya tiga puluh enam kali perzinaan. Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga cara (jalan), yang amat ringan dosanya sama dengan seorang bersetubuh (berzina) dengan ibu kandungnya. Sesungguhnya tidak akan diterima dari seorang pemakan riba itu, sedekahnya, atau jihad, atau haji, atau silaturrahminya (pemberian - pemberian hadiahnya). Ibnu Hajar berkata : Ketika ia masih kecil selalu pergi ke kubur ayahnya untuk membaca Qur'an, maka pada suatu hari di bulan ramadhan ia keluar sesudah subuh yang masih gelap, mungkin malam itu lailatul qadri, maka ketika ia telah duduk ditepi kubur ayahnya dan mulai membaca Qur'an, tiba - tiba mendengar suatu rintihan, tangis dan keluhan dengan suara yang sangat mengerikan, sehingga ia terpaksa menghentikan bacaannya dan mendegarkan suara yang keluar dari kuburan yang dibangun dari semen dan kapur, sedang suara yang terdengar itu sangat menakutkan. Dan pada suatu masa ia menanyakan pada orang tua - tua yang dekat disitu : kubur siapakah itu? Jawab orang tua : Saya masih kecil dan orang yang dikubur itu sudah tua, hanya yang dia kenal orang itu rajin sembahyang jama'ah di masjid dan tidak banyak bicara. Ibnu Hajar mendengar keterangan itu makin heran, melihat keadaannya kini. Kemudian karena kurang puas dengan keterangan itu, ia selalu menanyakan pada orang - orang tua yang mengetahui keadaan orang yang di dalam kubur itu, sehingga ada orang memberi tahu padanya bahwa orang itu dahulu pemakan riba. Sewaktu mudanya ia pedagang biasa, tetapi setelah tua ia menjalankan riba (yakni menghutangkan uangnya dengan jalan riba). Sehingga ia mati dalam keadaan itu. Maka itulah yang telah menjerumuskannya dalam siksa yang sedemikian itu, meskipun dibulan ramadhan dan lailatul qadri juga tidak mendapat keringanan. Karena itu wahai hamba - hamba Allah tinggalkanlah riba itu, karena Nabi saw telah menerangkan ia bagaikan berzina dengan ibu kandungnya, bahkan menyamai tiga puluh enam kali berzina, dan orang yang memakannya tidak akan diampuni. Karena itu janganlah kamu meniru orang - orang yang celaka yang tertipu oleh kesejahteraan hidupnya, sebab mereka akan mengalami sendiri hukuman siksa Allah kelak, karena mengejar sesuatu yang sedikit dan tidak kekal, bahkan pasti akan rusak binasa. Riba itu haram, bahkan dosa besar yang dapat membinasakan, juga orang - orang yang menghalalkannya dapat menjadi kafir. Ketahuilah bahwa riba berlaku dalam emas, perak, baik yang berupa uang atau tidak, juga makanan. Maka jika menjual makanan yang telah dijelaskan Nabi ribanya, dengan yang sama jenisnya, maka disyaratkan sama berat timbangan (ukurannya), dan segera dan timbang terima. Dan bila berbeda jenisnya maka syaratnya hanya kontan, yakni timbang terima sebelum berpisah.
Juga ada keterangan bahwa orang - orang yang makan riba itu kelak dikumpulkan di mahsyar berupa anjing dan babi, karena permainan hilat (siasat) mereka dalam riba seperti siasat yang telah dilakukan oleh orang - orang yahudi yang mengail di hari sabtu, meskipun mereka mengambil ikannya pada hari ahad, sehingga merubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.

Jumat, 12 Desember 2008

Minum Khamer

"Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamer, judi, berhala, dan undian-undian itu semua keji dari perbuatan syaithan, maka harus kamu tinggalkan semuanya, supaya kamu untung bahagia"(Al Ma'idah:90) "Ingatlah tiap sesuatu yang memabukkan itu khamer, dan tiap khamer haram"(HR.Ahmad) "Tidak akan berzina seorang pelacur diwaktu berzina jika ia beriman, dan tidak akan minum khamer ketika meminumnya jika beriman, dan tidak akan mencuri seorang pencuri diwaktu mencuri jika ia beriman"(HR.Bukhori Muslim) Orang yang tetap minum khamer jika mati sebelum bertobat maka akan menghadap kepada Allah bagaikan penyembah berhala. Siapa yang minum khamer seteguk, maka Allah tidak akan menerima amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan siapa yang minum khamer seseloki(segelas) maka Allah tidak akan menerima sembahyangnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamer maka selayaknya Allah memberinya minum darah bercampur nanah para ahli neraka. Dahulu ada seorang raja Bani Isra'il menangkap seorang, lalu menyuruh orang itu minum khamer, atau membunuh anak, atau berzina, atau makan daging babi atau dibunuh, maka dia memilih minum khamer, kemudian setelah ia mabuk maka tanpa disuruh semua perbuatan itu dilakukannya. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamer dan harganya(uang hasil penjualannya), juga mengharamkan bangkai dan harganya, dan mengharamkan babi dan harganya. Siapa yang minum khamer di dunia, maka Allah akan memberinya minum dari racunnya ular satu teguk, yang mana akan terkupas daging mukanya di dalam wadahnya sebelum diminum, maka bila telah diminum berjatuhan daging-daging dan kulitnya sehingga menimbulkan bau yang mengganggu ahli neraka. Ingatlah bahwa peminum, pemeras dan yang minta diperaskan, pembawa dan yang dibawakan kepadanya, dan yang makan harganya sama-sama dalam dosanya. Allah tidak akan menerima dari mereka sembahyang, puasa, dan haji mereka hingga bertobat. Maka jika mati sebelum tobat maka berhak Allah memberinya minum dari darah, nanah jahanam untuk tiap kali minum. Ingatlah tiap yang memabukkan khamer, dan tiap khamer haram. Bahwa para peminum khamer itu jika menyeberang di atas sirath(jembatan yang menuju sorga) diculik oleh malaikat zabaniyah dan dilempar ke sungai darah dan nanah, untuk diberi minum pada tiap sesloki yang diminum dari khamer, harus sesloki dari sungai itu, dan andaikan minuman nanah itu dituang dari langit niscaya akan terbakar langit dari panasnya.Na'udzubillahi min dzalika. Seorang tukang gali kubur ditsnya : apakah yang membuatnya bertobat? Jawabnya : Saya biasa menggali kubur, tiba-tiba saya melihat beberapa orang mati berbalik muka dari kiblat, maka ketika saya tanya pada keluarga mereka, dijawab : bahwa mereka dahulu biasa minum khamer di dunia dan hingga mati sebelum tobat. Ketahuillah bahwa hukum ganja itu haram seperti khamer, dan pengisapnya dikenakan hukum had seperti minum khamer, ini pendapat sebagian ulama, dan Ibnu Taimiyah menetapkan hukum ini dalam madzabnya, bahkan siapa yang menghalalkannya maka kafir, juga dihukum najis seperti khamer, demikian pendapat ulama Hambali dan sebagian ulama Syafi'i.

Sabtu, 15 November 2008

Takut Kepada Alloh

Firman Alloh ta`ala:"Kepada KU hendaklah takut. dan takutlah kepadaKU jika kamu benar-benar beriman".Maka Alloh menyuruh supaya kita takut kepadaNya,mewajibkannya bahkan menjadikan rasa takut pada Alloh syarat iman,sebab tidak dibayangkan seorang mukmin terlepas dari rasa takut kepada Alloh meskipun sekecil-kecilnya,sebab rasa takut itu sesuai dengan ma`rifat dan mengenalnya pada Alloh dan ma`rifat itu iman.Rasulullah saw bersabda:"Akulah yang lebih mengenal Alloh dari kamu,dan akulah yang lebih takut kepada Alloh dari kamu".Juga Nabi saw bersabda:"Pokok dari semua hikmat(inti sari dari ilmu)yalah takut kepada Alloh".