Rukun Iman yang pertama adalah Iman kepada Allah SWT. Iman kepada Allah adalah yang paling pokok dan mendasari seluruh ajaran Islam, dan ia harus diyakinkan dengan ilmu yang pasti seperti ilmu yang terdapat dalam kalimat shahadat “laa ilaaha illallah”. Ialah yang menjadi awal , inti, dan akhir dari seluruh seruan Islam sebagaimana wasiat Rasulullah saw kepada sahabat Mu’adz, ketika beliau mengutus sahabat tersebut ke negeri Yaman : “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kau dari Ahli Kitab, maka hendaklah engkau mengawali da’wahmu kepada mereka ‘penyaksian bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah’. Kemudian jika mereka telah taat kepadamu, maka ajarkan lagi kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atasnya shalat lima waktu.”
Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam telah memberikan pedoman kepada kita dalam mengenal Allah SWT. Demikian pula dikemukakannya bukti-bukti yang pasti tentang kekuasaan-Nya bersama seluruh sifat keagungan-Nya. Bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Suci, suci daripada sifat yang serupa dengan alam. Ia tak dapat diserupakan dalam bentuk apapun juga, maka anthropomorphisme tidak dikenal dalam Islam. Ia juga tidak bersatu dengan makhluk-Nya, sebagaimana Ia tidak bertempat pada sesuatu benda yang dijadikan-Nya, sebab itu pantheisme bertentangan dengan ajaran Islam. Konsep Ketuhanan menurut Qur’an berdasarkan atas firman Allah SWT :
“ Katakanlah, Ia Allah Maha Esa. Allah-lah tempat sekalian makhluk bergantung. Tidak Ia beranak , dan tidak Ia diperanakkan. Dan tidak ada siapapun yang setara dengan-Nya”. ( QS Al Ikhlash : 1-4 )
“ Dialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Pencipta segala sesuatu, karena itu sembahlah Dia oleh kamu, dan Dia menguasai segala sesuatu. Dia tidak terlihat oleh pandangan mata, tetapi Dia sendiri melihat dan Dialah Dzat yang lemah lembut lagi mha mengetahui.” ( QS Al An’am : 102-103 )
Pengetahuan manusia kepada Allah SWT adalah sejalan dengan sejarahnya sendiri. Itulah pengetahuan yang pertama kali diterima oleh manusia pertama, Adam as, yang diajarkan oleh Penciptanya, dan pengetahuan itulah yang kemudian diajarkan kepada anak cucunya. Bahkan manusia telah menyatakan imannya kepada Allah SWT sejak dia di alam arwah. Firman Allah SWT :
“ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab : ‘Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami menjadi saksi.” ( QS Al A’raf : 172 )
Dalam sejarah purba, manusia jahiliah mengenal juga Allah. Mereka mengerti bahwa yang menjadikan alam semesta dan yang harus disembah ialah Dzat yang bernama Allah itu. Qur’an mengungkapkan :
“ Katakanlah! Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa ( menciptakan ) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab : “Allah”. Maka katakanlah : ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” ( QS Yunus : 31 )
“ Dan jika kamu Tanya mereka itu ( orang-orang jahiliah ), siapakah yang menjadikan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab: ‘yang menjadikannya ialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.” ( QS Az Zuhruf : 9 )
Demikianlah pengakuan orang-orang jahiliah! Tetapi mengapa mereka menyembah juga berhala-berhala? Mereka menjawab bahwa patung-patung dan berhala-berhala yang mereka sembah itu adalah semata-mata berfungsi sebagai makelar-makelar dalam menyembah Allah dan untuk mendekatkan mereka kepada-Nya. Qur’an mengungkapkan jawaban mereka dalam firman Allah SWT :
“ Tidaklah kami menyembah mereka itu ( berhala-berhala ), melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepeda Allah, sehingga menjadi dekat.” ( QS Az Zumar : 3 )
Dalam kehidupan yang dianggap modern sekarang banyak kita jumpai hal-hal yang hakekatnya sama dengan keadaan manusia jahiliah dahulu. Menurut cara yang primitif, mereka menyembah patung-patung, berhala-berhala, pohon-pohon, gunung-gunung, sungai-sungai dan sebagainya dengan dalih sebagai perantara dalam menyembah Allah SWT. Dalam kehidupan orang-orang yang menamakan dirinya modern, cara itu nampak pada penghormatan-penghormatan pada monumen-monumen, keris-keris pusaka, tongkat-tongkat keramat, makam-makam dan sebagainya. Sebagian mereka mengambil dukun-dukun sebagai tempat konsultasi tentang berbagai masalah pribadi, social, ekonomi, politik, karir dan kedudukan-kedudukan penting dalam negara dan pemerintahan. Bahkan ada yang mengambil burung perkutut sebagai tempat konsultasinya. Semua itu hakekatnya satu ialah perbuatan syirik, mempersekutukan Allah SWT, dosa yang paling besar.
Islam memandang perbuatan semacam itu sebagai perbuatan hina akibat kebodohan. Bukankah manusia telah diciptakan pada martabat yang paling tinggi di antara seluruh makhluk di alam semesta ini ? Dengan perbuatan syirik, berarti dia telah menjatuhkan martabat kemanusiaannya yang tinggi. Sebab dia menghambakan diri kepada alam, suatu aniaya kepada diri sendiri. Itulah sebabnya manusia harus langsung kepada Tuhan tanpa menggunakan makelar-makelar sebagai perantara. Karena itu, Islam mengajarkan tauhid sebagai sumber hidup dan kehidupan yang benar. Dalam menyembah, memohon dan berdo’a harus langsung dihadapkan kepada Allah SWT :
“ Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah ), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala ) perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” ( QS Al Baqarah : 186 )
Metode Pembuktian Wujud Allah
Untuk membuktikan wujud Allah, Qur’an menunjukkan suatu metode yaitu dengan menyelidiki kepada kejadian manusia dan alam semesta. Alam ini adalah bukti-bukti kebenaran dan wujud Allah SWT. Filosuf Ibnu Rusyd ( 1126-1198) berkata : “Untuk membuktikan wujud Allah itu ada dua cara : yang pertama dinamakan ‘dalil al ‘inayah’ ( the proof of providence ) ; dan yang kedua dinamakan ‘dalil al ikhtira’ ( the proof of creation ).
Kesimpulan dari dalil pertama ialah bahwa sesungguhnya tentang kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukkan adanya suatu tujuan tertentu pada alam. Dan tidaklah mungkin bahwa alam semesta yang kita lihat itu, sempurna struktur kejadiaannya adalah suatu barang yang wujudnya kebetulan, tapi pasti telah ditentukan tujuannnya, bahwa ia adalah natijah daripada hikmah Ketuhanan yang sangat dalam.
Dan mengenai dalil kedua, berkesimpulan bahwa semua yang ada ( maujud ) yang kita lihat ini adalah makhluk ( dijadikan ), utamanya pada makhluk-makhluk hidup, dimana manusia sangat lemah untuk dapat menciptakan walaupun seekor binatang kecil.
Ibnu Rusyd menunjukkan itu memberikan arti bahwa ada Tuhan yang telah menjadikan nya seluruh makhluk ini. Dalam Qur’an, surat Al Haj : 73, Allah berfirman :
“ Hai manusia, telah ditunjukkan satu perumpamaan. Sebab itu dengarkanlah! Sesungguhnya yang kamu seru selain Allah, tidak akan bisa membikin lalat, walaupun mereka bersatu menjadikannya.”
Qur’an selalu mendesak kepada manusia untuk memikirkan betapa kejadian alam semesta dengan segala isinya. Betapa langit yang tak terbatas, perjalanan bintang-bintang dan planet-planet yang serba teratur, perputaran dan pergantian musim, angin yang berhembus dan yang berarak yang tiada hentinya. Kemudian manusia disuruh menukikkan pandangannya ke bumi, betapa ia telah dihamparkan penuh dengan serba ragam kekayaan, gunung-gunung yang mencakar langit, makhluk nabati dan hewani yang serba macam jenis telah diciptakan berjodoh-jodohan. Dan akhirnya kepada diri manusia sendiri, betapa ia telah diciptakan dari setetes air mani, kemudian berbentuk segumpal darah, lalu menjadi sebentuk daging yang kemudian diberi kerangka dari tulang-tulang. Dari proses evolusi yang indah tapi unik itu akhirnya lahirlah menjadi manusia sempurna. Semuanya adalah bukti tentang eksistensi dan keagungan Allah SWT.
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil dan duduk dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ( seraya berkata ) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” ( QS Ali Imran : 190-191 )
“ Apakah mereka tiada memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan, segala sesuatu yang telah dijadikan Allah ?” ( QS Al A’raf : 185 )
Selanjutnya Qur’an menegaskan bahwa Allah itulah satu-satunya Dzat yang menciptakan jagad raya ini, dan hanya Dialah yang memberikan hokum-hukum, mengatur dan memeliharanya. Andaikata ada Tuhan selain Allah, maka pastilah langit dan bumi itu hancur binasa. Sebab itu, mengapa manusia menganggap ada Tuhan selain Allah SWT ?
“ Sekiranya ada di langit dan di bumi beberapa Tuhan selain dari Allah, sungguh hancur binasalah seluruh langit dan bumi itu. Maha Suci Allah Tuhan bagi Arasy, daripada apa yang mereka sifatkan.” ( QS Al Anbiya’ : 22 )
Menurut ajaran Islam, wujud ( yang ada ) itu ada dua, yaitu : Allah dan alam. Allah ialah Khalik, Pencipta alam, dimana Dia sendiri tidak diciptakan. Existensi Allah adalah wajib, karena itu Dia adalah wajibul wujud , artinya adaNya adalah wajib. Dia tidak mungkin tidak ada. Tidak adanya Dia itu adalah mustahil. Dia suci dan berbeda dari alam dalam segala hal, “laisa kamitslihi syaiun”. Ini adalah aqidah Islam dan kaum muslimin.
Alam ialah makhluk, diciptakan oleh Allah. Tentang existensinya adalah mungkin saja, artinya boleh ada dan boleh tiada. Sebab itu ia dinamakan mumkinul wujud. Tetapi kenyataannya ia telah ada, karena itu dinamakan pula ia baru. “Baru” artinya dari tiada ke ada ( wujud ). Karena alam ini telah menjadi kenyataan, maka mestilah alam ini berpermulaan dan takhluk sepenuhnya kepada yang menjadikan dan menyebabkan wujud itu, itulah Dia Allah, Rabbul’alamin, wajibul wujud.
Yang dimaksud alam dalam ilmu tauhid ialah segala sesuatu yang dapat ditanggap oleh panca indera kita atau oleh perasaan dan pikiran kita. Dari partikel-partikel atom sampai kepada bintang-bintang raksasa, yang organis kepada yang anorganis. Seluruh jagad raya dengan isinya, juga ruang dan waktu adalah alam.
Alam itu mempunyai keadaan dan sifat-sifat khas. Pertama, ia takhluk kepada hukum gerak, berubah dan berkembang. Dari tiada lalu ada, dari kecil kepada besar, dari keadaan lemah menjadi kuat, kemudian kembali lemah lagi. Kebenaran yang diperolehnya nisbi, dan akhirnya ia mati dan musnah.
Kedua, alam itu dapat disusun atau tersusun ( murakkab ), karena ia adalah maddah ( materi ) dari susunan atom-atom dan molekul-molekul. Sebab itu pula ia berbentuk atau berwarna dan dapat diarahkan.
Ketiga, alam itu takhluk kepada ruang dan waktu ( space and time ), walaupun ruang dan waktu itu adalah alam juga.
Keempat, alam itu dapat ditanggap dengan panca indera, perasaan dan pikiran kita.
Semua keadaan dan sifat-sifat tersebut yang empat, adalah sama sekali suci daripada keadaan dan sifat-sifat Tuhan, Allah SWT.
Nilai guna dari pengetahuan kita tentang keadaan dan sifat-sifat khas alam itu ialah, bahwa segala yang dapat ditanggap oleh panca indera, dan segala yang berubah adalah tidak kekal, pasti mati dan musnah. Sebab itu janganlah ia disembah dan dipertuhankan, ia bukan Tuhan. Demikian pula segala yang takhluk kepada ruang dan waktu, ia tidak boleh dipuja karena ia bukan Tuhan. Maka Tuhan tidak boleh dipatungkan, dipahat, digambar, dan dilukis. Tuhan bukan maddah dan materi. SubstansiNya dan sifat-sifatNya tidak ada sedikitpun persamaannya dengan alam, ‘laisa kamitslihi syaiun’. Inilah akidah Islam dan kaum muslimin.
Tuhan itu ialah Allah SWT. Dia adalah Maha Esa. Dia Esa dalam segala-galanya. Esa dalam dzatNya, artinya tidak ada persamaannya dari seribu satu zat-zat yang kita kenal dalam ilmu fisika. Dia Maha Esa dalam sifat-sifatNya, sebagaimana sifat-sifat Tuhan yang terkenal dalam istilah ‘Sifat Duapuluh’. Dia Maha Esa dalam laku perbuatanNya. Dia Maha Esa dalam wujudNya, artinya hanya Allah sajalah yang wajibul wujud, yang lainnya hanya mumkinul wujud. Dia Maha Esa dalam menerima ibadah, dalam manusia berdo’a dan memohon menyampaikan maksud dan kehendaknya. Akhirnya, Dia Maha Esa dalam memberi hukum. Artinya Dialah yang satu-satunya Pemberi Hukum yang tertinggi, baik kepada alam semesta yang biasa dikenal dengan hukum alam ( law of nature ), maupun terhadap hidup dan kehidupan manusia yang disebut Syari’ah. Demikianlah Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa, Dia tidak bersyarikat dengan tiap yang ada, ‘laa syariiku lahu’.
Manfaat dari pengetahuan kita tentang keesaan Tuhan ialah manusia tidak boleh menyembah dan bertuhan selain kepada Allah SWT. Hanya Allahlah yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang tertinggi atas seluruh alam dan manusia. Dia berkuasa memuliakan dan menghinakan kepada siapa yang dikehendakiNya, Dia berkuasa memakmurkan atau menghancurkan suatu negeri yang dikehendakiNya. Tak ada suatu kekuatan yang mampu menghalangi dan mencegah kehendak dan laku perbuatanNya, karena Dia Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Karena itu, kita harus takwa kepadaNya, segala pengabdian hanya kepada Allah semata. Tegasnya, kita tidak boleh punya pilihan lain, baik secara perorangan maupun secara bersama, kita harus percaya dan patuh kepada kebenaran Hukum Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Itulah pandangan hidup dan way of life Islam dan kaum muslimin.
Untuk mempertinggi dan mempertebal iman kepada Allah, manusia diperintahkan mempelajari alam semesta, ia laksana kitab penuh khazanah dan hikmah terbuka di hadapan kita, menjadi ‘aayatun bayyinah’, bukti-bukti yang terang benderang tentang keesaan Allah SWT. Kita tidak diperkenankan memikirkan hakekat substansi Tuhan, untuk menghindari kesesatan. Masalah substansi Tuhan adalah di luar batas kemampuan rasio manusia.
Apabila manusia mau juga menyelidiki hakekat dzat Tuhan, ia diperingatkan agar mempelajari lebih dahulu dirinya sendiri sebagai objek yang terdekat yang masih penuh rahasia dan teka-teki. Pikirkanlah dirimu sendiri, apa hakekatnya.
“ Dan dalam dirimu, apakah kamu tidak perhatikan?” ( QS Ad Dzariyat : 21 )
Dalam diri manusia ada yang bernama ‘roh’. Apa roh itu? Mampukah nanusia mengetahui hakekat roh?
“ Mereka bertanya kepada engkau tentang roh. Jawablah, roh itu masuk urusan Tuhanku, dan kepada kamu hanya diberi pengetahuan sedikit.” ( QS Al Isra’ : 85 )
Ayat ini menentang kepada mereka yang kepala batu, bahwa sedangkan roh yang berada dalam dirimu sendiri tidak sanggup engkau mengajuk hakekatnya, apalagi hakekat substansi Allah SWT, Pencipta roh itu.
Kalaupun ada pengetahuan manusia tentang roh, tentu hanyalah sebagian kecil saja daripada gejala-gejala roh yang dikenalnya. Segi itulah yang menjadikan seseorang bertahun-tahun di Perguruan Tinggi mempelajari psychology sampai menjadi sarjana. Itulah ilmu yang sedikit diberikan Tuhan kepada manusia. Alangkah kecil rasanya manusia ini, dirinya saja sudah penuh dengan teka-teki dan rahasia yang tak terkaji olehnya sendiri. Kalau begitu betapa agungnya dzat yang menciptakan manusia itu dengan alam semesta seluruhnya. Allah Maha Besar.
Manusia dilarang memikirkan hakekat dzat Tuhan. Demikian penegasan agama, tetapi logika juga memahaminya.
Manusia sebagai bagian dari alam amat nisbi, relatif sekali sifatnya. Ia dibatasi sekali oleh ruang dan waktu. Cara berpikirnya, rasionya, logikanya bersifat sama-sama nisbi. Alalnya yang nisbi hanya sanggup berpikir dan memikirkan hal-hal yang relatif pula. Dan hasil pemikiran akal yang nisbi itu akan nisbi pula sifatnya. Hal ini dilukiskan oleh sejarah filsafat. Hari ini akal menganggap ia mendapat hakekat, untuk esok ditinggalkannya lagi, karena dianggapnya tidak benar. Akal sebagai bagian dari alam, hanya sanggup memikirkan tentang dan mengenal alam.
Allah sebagai Pencipta alam, mutlak sifatNya. Ia mengatasi ruang dan waktu. SubstansiNya, cara berpikir dan logikaNya bersifat mutlak pula, di sebelah sifat keesaan. Yang nisbi tidak sanggup mengerti ( sepenuhnya ) yang mutlak. Pengetahuan dan pengertiannya terhadap yang mutlak itu nisbi pula sifatnya. Daya yang nisbi adalah nisbi pula. Yang relatif itu hanya sanggup secara penuh memikirkan yang relative pula. Yang mutlak tidak termakan oleh akalnya seluruhnya. Pengertiannya yang mutlak hanya sekedar yang dapat diartikan oleh daya kenisbiannya. Karena itulah yang nisbi tidak sanggup mengerti sepenuhnya substansi yang mutlak, tak sanggup mengajuk rasioNya, cara berpikirNya, tak sanggup sepenuhnya membanding logikaNya.
Itulah sebabnya Nabi bersabda :
“ Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah, dan jangan kamu berpikir tentang dzatNya, niscaya kamu celaka.”
Demikianlah indahnya akidah Islam dan kaum muslimin, dibanding dengan doktrin Trinitas yang misterius lagi berbelit-belit.
Minggu, 21 Februari 2010
Sabtu, 16 Januari 2010
Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)
Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
| Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung. |
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
| Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang |
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:
Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.
Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.
Minggu, 10 Januari 2010
KEKUATAN TERSEMBUNYI PETIR
Satu kilatan petir menghasilkan listrik lebih besar daripada yang dihasilkan Amerika. Di malam hari, saat hujan deras, langit tiba-tiba menyala, tak lama kemudian disusul oleh suara menggelegar. Tahukah Anda bagaimanakah petir luar biasa yang menerangi langit muncul? Tahukah Anda seberapa banyak cahaya yang dipancarkannya? Atau seberapa besar panas yang dilepaskannya? Satu kilatan petir adalah cahaya terang yang terbentuk selama pelepasan listrik di atmosfer saat hujan badai. Petir dapat terjadi ketika tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer – masih dalam satu awan, atau antara awan dan permukaan tanah, atau antara dua permukaan tanah – mencapai tingkat tinggi.
Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif (-) mengalir dari awan ke permukaan tanah. Ini bukanlah kilatan yang sangat terang. Sejumlah kilat percabangan biasanya dapat terlihat menyebar keluar dari jalur kilat utama. Ketika sambaran pertama ini mencapai permukaan tanah, sebuah muatan berlawanan terbentuk pada titik yang akan disambarnya dan arus kilat kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama tersebut langsung menuju awan. Dua kilat tersebut biasanya beradu sekitar 50 meter di atas permukaan tanah. Arus pendek terbentuk di titik pertemuan antara awan dan permukaan tanah tersebut, dan hasilnya sebuah arus listrik yang sangat kuat dan terang mengalir dari dalam jalur kilat utama itu menuju awan. Perbedaan tegangan pada aliran listrik antara awan dan permukaan tanah ini melebihi beberapa juta volt. Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik di Amerika. Suhu pada jalur di mana petir terbentuk dapat mencapai 10.000 derajat Celcius. Suhu di dalam tanur untuk meleburkan besi adalah antara 1.050 dan 1.100 derajat Celcius. Panas yang dihasilkan oleh sambaran petir terkecil dapat mencapai 10 kali lipatnya. Panas yang luar biasa ini berarti bahwa petir dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di muka bumi. Perbandingan lainnya, suhu permukaan matahari tingginya 700.000 derajat Celcius. Dengan kata lain, suhu petir adalah 1/70 dari suhu permukaan matahari. Cahaya yang dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta bola lampu pijar berdaya 100 watt. Sebagai pembanding, satu kilatan petir menyinari sekelilinginya secara lebih terang dibandingkan ketika satu lampu pijar dinyalakan di setiap rumah di Istanbul. Allah mengarahkan perhatian pada kilauan luar biasa dari petir ini dalam Qur'an, "...Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS. An Nuur, 24:43) Kilatan yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam. Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20 milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju ke awan dalam tempo 70 mikrodetik. Secara keseluruhan petir berlangsung dalam waktu hingga setengah detik. Suara guruh yang mengikutinya disebabkan oleh pemanasan mendadak dari udara di sekitar jalur petir. Akibatnya, udara tersebut memuai dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, meskipun gelombang kejutnya kembali ke gelombang suara normal dalam rentang beberapa meter. Gelombang suara terbentuk mengikuti udara atmosfer dan bentuk permukaan setelahnya. Itulah alasan terjadinya guntur dan petir yang susul-menyusul. Saat kita merenungi semua perihal petir ini, kita dapat memahami bahwa peristiwa alam ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana sebuah kekuatan luar biasa semacam itu muncul dari partikel bermuatan positif dan negatif, yang tak terlihat oleh mata telanjang, menunjukkan bahwa petir diciptakan dengan sengaja. Lebih jauh lagi, kenyataan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari kekuatan ini, sekali lagi membuktikan bahwa petir diciptakan dengan kearifan khusus. Allah secara khusus menarik perhatian kita pada petir ini dalam Al Qur'an. Arti surat Ar Ra’d, salah satu surat Al Qur'an, sesungguhnya adalah "Guruh". Dalam ayat-ayat tentang petir Allah berfirman bahwa Dia menghadirkan petir pada manusia sebagai sumber rasa takut dan harapan. Allah juga berfirman bahwa guruh yang muncul saat petir menyambar bertasbih memujiNya. Allah telah menciptakan sejumlah tanda-tanda bagi kita pada petir. Kita wajib berpikir dan bersyukur bahwa guruh, yang mungkin belum pernah dipikirkan banyak orang seteliti ini dan yang menimbulkan perasaan takut dan pengharapan dalam diri manusia, adalah sebuah sarana yang dengannya rasa takut kepada Allah semakin bertambah dan yang dikirim olehNya untuk tujuan tertentu sebagaimana yang Dia kehendaki. |
Rabu, 06 Januari 2010
HATI MENJADI TENANG DENGAN MENGINGAT ALLAH
Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
| Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. |
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2
Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3
Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." 4
Jumat, 01 Januari 2010
LEBAH MADU
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)
Madu dihasilkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan lebah. Jelaslah bahwa minuman berkhasiat obat ini diciptakan agar bermanfaat bagi manusia. |
Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah sari madu bunga (nektar), yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh karena itulah, lebah mencampur nektar yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh mereka. Campuran ini menghasilkan zat bergizi yang baru -yaitu madu- dan menyimpannya untuk musim dingin mendatang.
Sungguh menarik untuk dicermati bahwa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan pembuatan dalam jumlah berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata "wahyu [ilham]" yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi.
Lebah menghasilkan madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari kendatipun tidak membutuhkannya dan sapi yang menghasilkan susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya.
Pengaturan Yang Luar Biasa Dalam Sarang Lebah
Kehidupan lebah di sarang dan pembuatan madunya sangatlah menakjubkan. Tanpa membahas terlalu terperinci, marilah kita amati ciri-ciri utama "kehidupan masyarakat" lebah. Lebah harus melaksanakan banyak "tugas" dan mereka mengatur semua ini dengan pengaturan yang luar biasa. Rancangan segienam dari petak-petak sarang lebah memungkinkan penyimpanan madu dalam jumlah terbanyak dengan bahan baku pembuatan sarang, yakni lilin, dalam jumlah paling sedikit. Lebah hanyalah serangga berukuran 1-2 cm dan ia melakukan perhitungan itu dengan apa yang telah diilhamkan Tuhannya. |
Jika hari panas, terlihat lebah sedang mengatur pertukaran udara di dalam sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada kayu, mereka mengipasi sarang dengan sayap. Dalam sarang yang baku, udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah pengatur pertukaran udara yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang.
Perangkat pertukaran udara ini juga bermanfaat melindungi sarang dari asap dan pencemaran udara.
Penataan kesehatan: Upaya lebah untuk menjaga mutu madu tidak terbatas hanya pada pengaturan kelembapan dan panas. Di dalam sarang terdapat jaringan pemeliharaan kesehatan yang sempurna untuk mengendalikan segala peristiwa yang mungkin menimbulkan berkembangnya bakteri. Tujuan utama penataan ini adalah menghilangkan zat-zat yang mungkin menimbulkan bakteri. Prinsipnya adalah mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga memasuki sarang walau sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah bertindak untuk mengusirnya dari sarang.
Sampai di sini, berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran. Propolis mencegah bakteri apa pun hidup di dalamnya. Ini menjadikan propolis sebagai zat terbaik untuk pembalsaman. Bagaimana lebah mengetahui bahwa zat tersebutlah yang terbaik? Bagaimana lebah menghasilkan suatu zat, yang hanya bisa dibuat manusia dalam laboratorium dan menggunakan teknologi, serta dengan pemahaman ilmu kimia? Bagaimana mereka mengetahui bahwa serangga yang mati dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri dan bahwa pembalsaman akan mencegah hal ini?
Sudah jelas lebah tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang ini, apalagi laboratorium. Lebah hanyalah seekor serangga yang panjangnya 1-2 cm dan ia melakukan ini semua dengan apa yang telah diilhamkan Tuhannya.
PERANGKAT PENERBANGAN HEBAT PADA SERANGGA
Bagaimana seekor ganjurmampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Bagaimana seekor kutu melompat sejauh ratusan kali ukuran tinggi tubuhnya? Mengapa seekor kupu-kupu terbang maju sementara sayapnya mengepak ke atas dan ke bawah?
Lalat adalah satu di antara hewan-hewan yang disebut di dalam Al Qur’an, sebagai satu saja dari banyak satwa yang mengungkap pengetahuan tak terbatas Tuhan kita. Allah Yang Mahakuasa berfirman tentang hal ini dalam ayat ke-73 surat Al Hajj:
Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (QS. Al Hajj, 22:73)
Otot-otot penerbangan dari banyak serangga seperti capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan oleh saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakan mereka |
Meskipun telah dilakukan penelitian terkini, walaupun seluruh teknologi telah Allah berikan kepada manusia, amat banyak ciri makhluk hidup yang masih menyimpan sisi-sisi menakjubkannya. Sebagaimana pada segala sesuatu yang telah Allah ciptakan, dalam tubuh seekor lalat memperlihatkan bukti melimpah pengetahuan mahatinggi. Dengan mengkaji seluk beluknya, siapa pun yang berpikir akan mampu sekali lagi merenung di atas kekagumannya yang mendalam kepada Allah dan ketaatan kepadaNya.
Sejumlah penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan terhadap perangkat penerbangan lalat dan serangga-serangga kecil lainnya diuraikan di bawah ini. Kesimpulan yang muncul darinya adalah tiada kekuatan acak, coba-coba atau wujud selain Allah yang mampu menciptakan kerumitan seekor serangga sekalipun.
Otot terbang dari banyak serangga seperti belalang dan capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakannya. Pada belalang, misalnya, sinyal-sinyal kiriman setiap saraf menyebabkan otot-otot terbang mengerut. Dengan bekerja bergantian, tidak saling berlawanan, dua kelompok otot yang saling melengkapi, yang dinamakan elevator (pengangkat) dan depresor (penurun), memungkinkan sayap-sayap terangkat dan mengepak ke bawah. Belalang mengepakkan sayapnya 12 hingga 15 kali per detik, dan agar dapat terbang serangga-serangga lebih kecil harus mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi. Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap 200 hingga 400 kali per detik, dan pada ganjur dan sejumlah serangga merugikan yang berukuran hanya 1 milimeter (0.03 inci), kecepatan ini meningkat ke angka mengejutkan 1000 kali per detik! Sayap-sayap yang mengepak terlalu cepat untuk dapat dilihat mata manusia telah diciptakan dengan rancangan khusus agar dapat melakukan kerja yang terus-menerus semacam ini.
Sebuah saraf mampu mengirim paling banyak 200 sinyal per detik. Lalu bagaimana seekor serangga kecil mampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Penelitian telah membuktikan bahwa pada serangga-serangga ini, tidak terdapat hubungan satu-banding-satu antara sinyal dari saraf dan jumlah kepakan sayap per satuan waktu.
Pada perangkat istimewa ini, yang masing-masing diciptakan tersendiri pada tubuh setiap serangga, tak dijumpai ketidakteraturan sedikit pun. Saraf-sarafnya tidak pernah mengirim sinyal yang salah, dan otot-otot serangga senantiasa menerjemahkannya secara benar.
Pada jenis seperti lalat dan lebah, otot-otot yang memungkinkan terbang bahkan tidak menempel pada pangkal sayap! Sebaliknya, otot-otot ini melekat pada dada melalui pengait yang berperan seperti engsel, sedangkan otot-otot yang mengangkat sayap ke atas melekat pada permukaan atas dan bawah dada. Saat otot-otot ini mengerut, permukaan dada menjadi rata dan menarik pangkal sayap ke bawah. Permukaan samping sayap memberikan peran penyokong sehingga memungkinkan sayap-sayap terangkat. Otot-otot yang menimbulkan gerakan ke bawah tidak melekat langsung pada sayap, tapi bekerja di sepanjang dada. Ketika otot-otot ini mengerut, dada tertarik kembali ke arah berlawanan, dan dengan cara ini sayap tergerakkan ke bawah.
Engsel sayap tersusun atas protein khusus yang dikenal sebagai resilin, yang memiliki kelenturan luar biasa. Karena sifatnya jauh mengungguli karet alami ataupun buatan, para insinyur kimia berupaya membuat tiruan bahan ini, di laboratorium. Saat melentur dan mengerut, resilin mampu menyimpan hampir keseluruhan energi yang dikenakan padanya, dan ketika gaya yang menekannya dihilangkan, resilin mampu mengembalikan keseluruhan energi itu. Alhasil, daya guna (efisiensi) resilin dapat mencapai 96%. Saat sayap terangkat, sekitar 85% energi yang dikeluarkan disimpan untuk saat berikutnya; energi yang sama ini kemudian digunakan kembali dalam gerakan ke bawah yang memberikan daya angkat ke atas dan mendorong sang serangga ke depan. Permukaan dada dan ototnya telah diciptakan dengan rancangan istimewa untuk memungkinkan pengumpulan energi ini. Namun, energi tersebut sesungguhnya disimpan pada engsel yang terdiri atas resilin. Sudah pasti mustahil bagi seekor serangga, dengan usahanya sendiri, melengkapi diri sendiri dengan peralatan luar biasa untuk terbang. Kecerdasan dan kekuatan tak terhingga Allah telah menciptakan resilin istimewa ini pada tubuh serangga.
Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap mereka 200 hingga 400 kali per detik. |
Untuk penerbangan yang mulus, gerakan lurus ke atas dan ke bawah saja tidaklah cukup. Agar dapat memunculkan gaya angkat dan gaya dorong, sayap haruslah pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan berputar yang khas, tergantung jenisnya, yang dimungkinkan oleh apa yang disebut sebagai direct flight muscles (otot-terbang kemudi), disingkat DFM yang menghasilkan gaya-gaya yang diperlukan untuk terbang.
Ketika serangga berupaya naik lebih tinggi di udara, mereka memperbesar sudut sayap mereka dengan mengerutkan otot-otot di antara engsel-engsel sayap ini secara lebih kuat. Rekaman gambar berkecepatan-tinggi dan gerak-terhenti memperlihatkan bahwa selama terbang, sayap-sayap tersebut bergerak mengikuti lintasan lingkar-telur dan untuk setiap kali putaran sayap, sudutnya berubah secara teratur. Perubahan ini disebabkan pergerakan yang senantiasa berubah dari otot-terbang kemudi dan penempelan sayap pada tubuh.
Masalah terbesar yang dihadapi jenis serangga sangat mungil ketika terbang adalah hambatan udara. Bagi mereka, kerapatan udara sangat besar menjadi rintangan yang tidak bisa diremehkan. Selain itu, lapisan penghambat di sekeliling sayap menyebabkan udara melekat pada sayap dan mengurangi kedayagunaan (efisiensi) terbang. Agar dapat mengatasi hambatan udara ini, serangga-serangga seperti Forcipomya, yang lebar sayapnya tak lebih dari 1 milimeter, harus mengepakkan sayap 1000 kali per detik.
Para ilmuwan percaya bahwa secara teori, kecepatan ini pun tidaklah cukup menahan serangga-serangga ini tetap di udara, dan mereka pastilah menggunakan perangkat tambahan lainnya. Pada kenyataannya, Anarsia, sejenis serangga merugikan, menggunakan cara yang dikenal sebagai 'beat and shake' (mengepak dan menggoyang). Ketika sayap-sayapnya mencapai titik tertinggi dalam gerakannya ke atas, sayap-sayap ini saling mengepak dan kemudian membuka ke bawah kembali. Di saat sayap-sayap ini (dengan jaringan pembuluh darahnya) membuka, aliran udara depan membentuk pusaran mengitari sayap-sayap tersebut dan dengan kepakan sayap membantu daya angkat.
Banyak jenis serangga, termasuk belalang, memperhatikan apa yang ditangkap penglihatannya seperti garis kaki langit (horizon) untuk menentukan arah terbang dan tujuan akhirnya. Untuk mengokohkan keseimbangan kedudukannya, lalat telah diciptakan dengan rancangan yang lebih luar biasa lagi. Serangga-serangga ini memiliki hanya sepasang sayap, tapi di sisi belakang masing-masing sayap itu terdapat tonjolan melingkar yang dikenal sebagai halter (pengekang). Meskipun tidak menghasilkan gaya angkat, pengekang ini bergetar bersama sayap-sayap depan. Di saat serangga mengubah arah terbangnya, tonjolan sayap ini mencegahnya menyimpang dari jalur perjalanan.
Seluruh pengetahuan yang dipaparkan di sini dihasilkan dari penelitian terhadap kemahiran terbang tiga atau empat jenis serangga saja. Perlu diketahui bahwa keseluruhan jenis serangga di bumi berjumlah sekitar 10 juta. Dengan mempertimbangkan seluruh jutaan jenis selebihnya ini, beserta keistimewaan tak terhitung yang dimilikinya, seseorang pasti semakin bertambah kekagumannya akan kehebatan Allah yang tak terhingga.
Pemecahan Masalah bagi Gangguan Vena dari Gen Kutu
Para ilmuwan telah berhasil memisahkan gen resilin dari lalat buah dan berhasil membuat salinan protein ini secara alamiah dengan mencangkokkan gen tersebut ke dalam bakteri Escherichia coli.
Dalam penelitian yang dilakukan the Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), (Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran Australia), para ilmuwan yang berhasil menemukan gen yang menghasilkan resilin serangga juga menemukan polimer hebat yang mungkin berguna dalam penanganan penyakit pembuluh darah vena. Pengkajian yang berawal di tahun 1960-an, yang dipusatkan pada belalang dan capung padang pasir, merupakan pendorong kuat yang memajukan tahap terpenting ini.
Resilin, yang juga memberikan kutu kemampuan untuk membuat lompatan luar biasa, melengkapi belalang dan capung padang pasir, serta serangga lain keahlian bergerak yang mengejutkan. Berkat zat ini, kutu mampu melompat beratus-ratus kali tinggi tubuhnya sendiri dan sejumlah lalat dapat mengepakkan sayapnya lebih dari 200 kali per detik.
Untuk penerbangan yang mulus, gerakan sayap lurus ke atas dan ke bawah tidaklah cukup. Sayap mesti pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan-berputar yang istimewa yang diberikan oleh otot-otot pengendali penerbangan. |
Protein yang diperoleh dari resilin jauh lebih baik dari produk karet berkualitas tertinggi dalam hal kemampuannya menahan tekanan dan kembali ke bentuk asalnya. Penelitian yang berkelanjutan tentang resilin tiruan menunjukkan bahwa protein tersebut tetap memiliki sifat-sifat ini.
Para ilmuwan menyatakan keyakinannya bahwa polimer yang didapatkan dari pencangkokkan gen-gen serangga dapat diterapkan di aneka bidang yang sangat beragam, dari kedokteran hingga industri. Namun, mungkin yang terpenting dari penerapan ini adalah penanganan penyakit pembuluh darah arteri pada manusia. Oleh karena resilin menyerupai protein elastin pada pembuluh vena manusia, para ilmuwan berharap bahwa penelitian mereka akan memberi vena kelenturan yang terbaharui.
Profesor asal Inggris Roger Greenhalgh menyatakan bahwa “Penelitian [terhadap resilin] tampaknya berada pada tahap paling awal, tapi jika kita dapat mengambil sesuatu yang bagus dari kelenturan kutu tersebut yang bermanfaat bagi manusia, hal itu akan sangat berkesan“
HAMAN DAN BANGUNAN MESIR KUNO
Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan dalam paparan Al Qur'an tentang Haman: seorang pelaku yang namanya disebut di dalam Al Qur'an, bersama dengan Fir'aun. Ia disebut di enam tempat berbeda dalam Al Qur'an, di mana Al Qur'an memberitahu kita bahwa ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Fir'aun.
Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur'an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif dipecahkan, sekitar 200 tahun silam, dan nama “Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu. Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini, yang memaparkan kisah dan membukukan catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir pada batu dan banyak contoh masih terawetkan berabad-abad. Dengan tersebarnya agama Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak berubah hingga sekitar 2 abad silam.
Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.
Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir'aun. 1
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”. 2
Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur'an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir'aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur'an.
Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (QS. Al Qashas, 28:38)
Ayat dalam Al Qur'an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir'aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur'an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual. Secara menakjubkan, Al Qur'an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)